Seperti dikutip dari The Washington Times, tanda-tanda Perang Dingin jilid II sudah ada. Ini terlihat dari kepemilikan investor Rusia di surat berharga pemerintah Amerika Serikat. Saat ini, Rusia memegang surat berharga AS dengan nilai sekitar US$ 200 juta (Rp 2 triliun). Beberapa analis melihat kemungkinan ada dana yang keluar senilai US$ 100 juta (Rp 1 triliun) jika sanksi terhadap Rusia terus bertambah.
“Kami memegang dana yang tidak sedikit di pasar AS. Jika AS berani membekukan aset pebisnis dan orang-orang Rusia, maka kami tidak bisa melihat mereka sebagai mitra strategis lagi. Kami akan mengimbau semua orang untuk melepas surat berharga pemerintah AS, melepas mata uang, dan meninggalkan pasar mereka,” kata Sergei Glazyev, salah satu penasehat Presiden Vladimir Putin.
AS pun punya senjata balasan jika Rusia menarik dana dari pasar surat berharga. Ketika harga minyak naik akibat sanksi kepada Rusia, AS bersiap melepas cadangan mereka sebanyak 727 juta barel. Apabila harga minyak tidak naik signifikan, Rusia pun tidak mendapat untung.
“Perang ekonomi sudah disiapkan. Aksi saling balas akan terus terjadi sampai salah satu dari mereka melempar handuk,” kata Herve van Caloen, Analis Belpointe Asset Management.
Kremlin sendiri menolak segala hal yang dikaitkan dengan Perang Dingin baru. Akan tetapi, Putin juga menegaskan bahwa Rusia punya kepentingan dan pihak Barat sudah keterlaluan.
“Kita harus menghentikan pembicaraan tentang Perang Dingin, dan menyadari bahwa Rusia adalah sebuah negara merdeka. Namun Anda harus menghormati kepentingan Rusia, dan mitra-mitra kami di Barat sudah melampaui batas,” tutur Putin, seperti dilansir dari NBC.
Putin juga menyindir AS yang selalu mengagungkan kebebasan di atas segalanya tetapi tidak menghargai kehendak rakyat Crimea yang ingin merdeka. “Rusia selalu disudutkan. Kami adalah negara berdaulat, dan prinsip itu kami pegang teguh,” katanya.
Barack Obama, Presiden AS, juga menolak terminologi Perang Dingin baru. Menurutnya, apa yang terjadi saat ini sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Perang Dingin 1947-1991.
“Tidak seperti Uni Soviet, Rusia sekarang tidak memiliki blok maupun ideologi. AS dan NATO tidak ingin ada konflik dengan Rusia,” kata Obama seperti dikutip dari Time.
Victor Sebestyen, penulis buku Revolution 1989: The Fall of the Soviet Empire, juga mengatakan apa yang terjadi saat ini tidak cocok disebut Perang Dingin. Rusia tidak punya ideologi sebesar komunisme yang menawarkan alternatif terhadap kapitalisme Barat. Di Rusia, ekonomi dijalankan oleh para kroni Putin.
“Model ekonomi Putinisme tidak bisa diekspor ke negara lain. Tidak mungkin ada kelompok petani di Amerika Selatan, Asia, atau Afrika yang meneriakkan slogan ‘kaum pekerja sedunia bersatulah untuk keuntungan Gazprom’,” tegas Sebestyen, seperti dilansir New York Times.











































