Jika ini sampai terjadi, perekonomian global akan terkena dampaknya dan Indonesia tidak terkecuali. “Jika Perang Dingin sampai terjadi, recovery perekonomian global akan semakin sulit. Perekonomian Eropa dan Amerika Serikat akan terseret,” kata Juniman, Kepala Ekonom BII.
Eropa, lanjut Juniman, saat ini masih mencoba untuk bangkit dari krisis fiskal yang berlangsung sejak 2010. Jika Rusia sampai dikenai sanksi, maka akan semakin sulit bagi Eropa untuk bangkit.
Saat ini, Eropa masih tergantung pasokan energi dari Rusia. “Kalau supply energi dari Rusia di-cut, maka banyak sekali perusahaan di Eropa yang tidak bisa berjalan. Eropa bisa kembali resesi,” tutur Juniman.
Sementara bagi AS, putus hubungan dengan Rusia juga berdampak negatif. Rusia merupakan pasar yang cukup penting bagi AS. Tahun lalu, nilai ekspor AS ke Rusia mencapai US$ 11,16 miliar.
“Jika pasar di Rusia sudah tertutup, apalagi Eropa juga resesi, maka perekonomian AS akan melambat lagi. Padahal sekarang ekonomi mereka sedang membaik,” ucap Juniman.
Bagi Indonesia, tambah Juniman, dampak negatif juga akan terasa. Pertama datang dari sisi perdagangan. Ketika perekonomian Eropa dan AS melambat, ekspor Indonesia akan terganggu.
Kedua adalah dari sektor keuangan. “Arus modal asing kemungkinan melambat. Memang ada peluang kalau negara-negara maju bermasalah maka arus modal bisa masuk ke Indonesia. Namun apakah kita siap?” tegas Juniman.
Investor global, menurut Juniman, melihat bahwa perekonomian Indonesia masih melambat sehingga ada risiko. Dengan begitu, investor cenderung mencari instrumen investasi yang paling aman seperti obligasi negara AS atau emas.
Ketiga adalah harga minyak. Rusia merupakan salah satu penghasil utama minyak dunia, dengan produksi mencapai lebih dari 10 juta barel per hari. Bandingkan dengan Indonesia, yang di bawah 800 ribu barel per hari.
Jika pasokan dari Rusia terganggu, maka harga minyak dunia pun berpotensi melonjak. Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak lebih menjadi kabar buruk dibandingkan kabar baik.
“Secara de facto, kita adalah net importer minyak. Jadi kalau harga minyak naik maka akan sangat memberatkan. Anggaran subsidi dan current account deficit akan semakin besar,” sebut Juniman.
Namun, Juniman optimistis Perang Dingin jilid II tidak akan terjadi. Menurutnya, ekonomi global yang saling terhubung membuat sulit bagi suatu negara untuk memutus hubungan dengan dunia luar.
Rusia sendiri punya pasar yang besar di AS, dengan nilai ekspor mencapai US$ 26,96 miliar tahun lalu. Tentunya tidak menguntungkan bagi Rusia kalau ngambek terlalu lama, karena mereka bisa kehilangan pasar di AS.
“Memang saat ini ada concern ego masing-masing yang masih tinggi. Namun saya yakin akan ada jalan keluar untuk masalah Crimea. Paling mudah adalah adakan voting ulang di Crimea dengan pengawasan lembaga independen, di mana semua pihak harus menerima apapun hasilnya,” papar Juniman.
(hds/DES)











































