Sofjan Wanandi Mengeluh Suku Bunga di Indonesia Masih Tinggi

Sofjan Wanandi Mengeluh Suku Bunga di Indonesia Masih Tinggi

- detikFinance
Rabu, 02 Apr 2014 20:20 WIB
Sofjan Wanandi Mengeluh Suku Bunga di Indonesia Masih Tinggi
Jakarta - Kalangan pengusaha merasa suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 7,5% sangat memberatkan mereka. Pengusaha beralasan dengan BI Rate setinggi itu, produk dalam negeri sulit berkompetisi di tingkat global.

"Kita bagaimana mau berkompetisi dengan produk-produk dari negara lain kalau suku bunganya masih tinggi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dalam diskusi di kantor BI, Jakarta, Rabu (2/4/2014).

Dampaknya, Indonesia masih sulit untuk menerapkan suku bunga acuan yang rendah seperti pada kisaran 4%, layaknya di negara-negara maju. Untuk mencapai suku bunga acuan sekecil itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus dapat menjaga inflasi maksimal 2%.

"Selama kita tidak bisa menurunkan inflasi dan stabil di 2% susah kita harapkan kita punya suku bunga yang bisa stabil di 4%-5%," ungkapnya

Saat ini, suku bunga acuan yang ditetapkan sebesar 7,5%. Hal tersebut dianggap sesuai dengan pergerakan inflasi yang pada akhir tahun ditargetkan mencapai 4,5+-1%. Dengan meredam inflasi, juga berdampak positif pada yield obligasi.

Misalnya di Filipina, inflasi yang sebesar 3% membuat yield obligasi sebesar 4,5%. Sedangkan Indonesia, untuk titik terendah saja masih mencapai 5%.

"Filipina inflasi hanya 3% sehingga yield obligasi pemerintah Filipina hanya 4,5% sedangkan yield obligasi Indonesia titik terendahnya masih 5%," sebutnya.

Ia menambahkan di dalam negeri selalu ada ancaman dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) setiap tahunnya. Sehingga, inflasi sebesar 2% menjadi tidak realistis.

"Karena kalau bikin target 2% itu tidak realistis. Inflasi kita naik tiba-tiba karena harus adjustment BBM. Selama masih punya subsidi BBM tidak tetap maka kita akan selalu adjustment BBM sehingga inflasi melonjak, suku bunga naik yield obligasi naik," ujar Sofjan.

(mkl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads