"Kita bagaimana mau berkompetisi dengan produk-produk dari negara lain kalau suku bunganya masih tinggi," kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi dalam diskusi di kantor BI, Jakarta, Rabu (2/4/2014).
Dampaknya, Indonesia masih sulit untuk menerapkan suku bunga acuan yang rendah seperti pada kisaran 4%, layaknya di negara-negara maju. Untuk mencapai suku bunga acuan sekecil itu, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus dapat menjaga inflasi maksimal 2%.
"Selama kita tidak bisa menurunkan inflasi dan stabil di 2% susah kita harapkan kita punya suku bunga yang bisa stabil di 4%-5%," ungkapnya
Saat ini, suku bunga acuan yang ditetapkan sebesar 7,5%. Hal tersebut dianggap sesuai dengan pergerakan inflasi yang pada akhir tahun ditargetkan mencapai 4,5+-1%. Dengan meredam inflasi, juga berdampak positif pada yield obligasi.
Misalnya di Filipina, inflasi yang sebesar 3% membuat yield obligasi sebesar 4,5%. Sedangkan Indonesia, untuk titik terendah saja masih mencapai 5%.
"Filipina inflasi hanya 3% sehingga yield obligasi pemerintah Filipina hanya 4,5% sedangkan yield obligasi Indonesia titik terendahnya masih 5%," sebutnya.
Ia menambahkan di dalam negeri selalu ada ancaman dampak dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) setiap tahunnya. Sehingga, inflasi sebesar 2% menjadi tidak realistis.
"Karena kalau bikin target 2% itu tidak realistis. Inflasi kita naik tiba-tiba karena harus adjustment BBM. Selama masih punya subsidi BBM tidak tetap maka kita akan selalu adjustment BBM sehingga inflasi melonjak, suku bunga naik yield obligasi naik," ujar Sofjan.
(mkl/hen)











































