PT Bukaka Pernah Berniat Garap Monorel di Jakarta

PT Bukaka Pernah Berniat Garap Monorel di Jakarta

- detikFinance
Kamis, 03 Apr 2014 14:05 WIB
PT Bukaka Pernah Berniat Garap Monorel di Jakarta
Jakarta - Direktur Utama PT Bukaka Teknik Utama Ahmad Kalla mengakui perusahaannya ingin ikutan menggarap proyel monorel di Jakarta. Bukaka bahkan sudah membuat prototype monorel yang layak digunakan masyarakat Jakarta. Namun ide itu belum sempat ia berikan kepada Pemprov DKI Jakarta.

"Belum sempat (diberikan ide monorel kepada Pemrov DKI Jakarta). Tetapi monorel sudah kita kembangkan 4 tahun yang lalu. Prototype monorel sudah ada dan sekarang jadi museum di Tambun," kata Ahmad saat ditemui di Gedung Kementerian Perindustrian Jalan Gatot Subroto Jakarta, Kamis (3/04/2014).

Mengapa ide monorel Bukaka tidak diajukan ke Pemprov DKI Jakarta? Menurut Ahmad cukup berat bila swasta yang menanggung keseluruhan proyek pembangunan transportasi massal (mass transportation). Seharusnya proyek pembangunan transportasi massal dilakukan oleh pemerintah sepenuhnya.

"Kita juga rugi karena tidak feasible (layak). Kita ingin bangun tetapi dengan harga murah, tanahnya gratis dan lain-lain tetapi tidak mungkin. Negara harus keluarin duit bangun. Atau bisa juga kita yang mengoperasikan sementara kereta dan sarana lainnya pemerintah yang beli," imbuhnya.

Ahmad menuturkan di seluruh dunia pemerintah berkewajiban membangun sarana transportasi massal. Hanya pembangunan transportasi massal di negara Hongkong yang dibiayai oleh swasta karena alasan teknis.

"Ada kesalahan total yang kita lakukan yaitu tidak ada di dunia ini mass transport dibiayai oleh swasta. Cari kan (negaranya), nggak ada kecuali Hong Kong. Penyebabnya kan (Hong Kong) mass transport ini ada stasiunnya dikasihlah section station. Stasiun ini mereka bangun 60 lantai di atasnya yang untung gedungnya. Gedungnya ini akan mensubsidi kepada alat transportasinya/monorelnya," tuturnya.

Bila proyek transportasi massal dikerjakan oleh swasta sepenuhnya maka dipastikan perusahaan itu akan rugi dan mundur di tengah jalan.

"Iya dong harus difasilitasi oleh pemerintahnya. Ada tiba-tiba pengusaha ingin bangun monorel hitungannya dimana, ternyata nggak jalan kan. Karena nggak ada rumus di dunia itu mass transport dibangun oleh swasta. Karena pasti rugi. Hitungannya biaya investasi Rp 10 triliun karcis Rp 9.000/penumpang sehari bisa angkut 200.000. Kalau disubsidi saya juga mau. Tetapi kalau tidak disubsidi pengahasilan di karcis tidak akan mungkin," jelasnya.

(wij/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads