Masih Lajang Kok Mikir Keuangan? It Is Better Now Than Never!

Masih Lajang Kok Mikir Keuangan? It Is Better Now Than Never!

- detikFinance
Rabu, 09 Apr 2014 09:50 WIB
Masih Lajang Kok Mikir Keuangan? It Is Better Now Than Never!
Jakarta - Pernahkah anda membayangkan apa yang terjadi jika di masa muda ini kehilangan pekerjaan? Atau tiba-tiba sakit keras sehingga butuh dana besar?

Para lajang saat ini harus pintar menyiapkan tujuan finansial. Hal ini diperlukan untuk memahami kondisi keuangan agar tidak kaget menempuh hidup.

Kebanyakan saat ini para lajang itu mempunyai pekerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup, tidak punya tanggungan, belanja tidak perlu mikir dan masih tinggal dengan orangtua. Namun pertanyaan berikut membantu para lajang untuk mulai berpikir lebih dalam akan kondisi keuangannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip detikFinance, Rabu (9/4/2013) dari situs resmi QM Financial yang dipimpin perencana keuangan Ligwina Hananto, berikut beberapa pertanyaan yang menyangkut kondisi keuangan seseorang.

Pernah membayangkan apa yang akan terjadi kalau tiba-tiba kehilangan pekerjaan?

Keadaan ini bisa menimpa siapa saja. Untuk yang masih lajang baik pria atau wanita, biasanya perencana keuangan menyarankan agar paling tidak tabungan yang dimiliki besarnya mencapai 4 x pengeluaran bulanan. Jika dananya sudah ada, tinggal penempatannya yang dibagi-bagi. Misalkan ada yang di tabungan, deposito, reksadana pendapatan tetap atau campuran dan emas. Bagi lajang yang belum mengerti apa itu reksadana, silakan mencari informasi lebih banyak terlebih dahulu ya.

Mau sampai kapan tinggal di rumah orangtua? Tidak ingin punya rumah sendiri?

Memiliki rumah atau properti seperti apartemen, kos atau kontrakan adalah salah satu tujuan finansial yang biasanya bukan menjadi tujuan utama para lajang. Alasannya bisa jadi karena orangtua ingin selalu ditemani atau memang toh nantinya rumah orangtua menjadi warisan. Memiliki properti tidak berarti harus ditinggali sendiri bukan? Jika tetap ingin tinggal bersama orangtua, aset ini tentu saja bisa menjadi tambahan pendapatan. Nah, bagi yang baru akan membeli properti dengan KPR dari bank, sebaiknya mempertimbangkan lamanya cicilan agar saat memasuki usia pensiun urusan cicilan ini sudah selesai.

Pensiun masih 15 tahun lagi, memang perlu dana pensiun dari sekarang?

Ayo segera lakukan perubahan jika Anda ternyata hanya mengharapkan dana pensiun dari kantor. Lima belas tahun bukan waktu yang lama untuk menyiapkan dana ini, apalagi bila ingin mempertahankan gaya hidup yang sudah dirasa nyaman. Tidak ada kata terlambat untuk mulai mempersiapkan dananya.

Kalau pada masa pensiun sakit, siapa yang akan membiayai?

Karena memutuskan untuk melajang, tentu saja ini menjadi tanggung jawab sendiri. Kalau sekarang ada asuransi kesehatan atau ditanggung kantor, bagaimana pada saat pensiun nanti? Membeli asuransi kesehatan tetap bisa menjadi salah satu jalan keluar, hanya saja preminya akan sangat mahal dan ada batasan umur. Solusi lainnya adalah membuat tujuan finansial berjudul Dana Kesehatan Pensiun. Jadi jika sakit, dana yang dipakai tidak diambil dari uang untuk keperluan sehari-hari melainkan diambil dari pos ini. Berapa besarnya dana tersebut? Sangat bervariasi tergantung dari seberapa besar setiap tahunnya Anda ingin sisihkan untuk kesehatan. Contoh, jika saat ini Anda ingin dana kesehatan pertahunnya sebesar Rp 200juta, maka biasanya besarnya dana kesehatan pensiun adalah minimal untuk 3 tahun atau total Rp 600 juta. Nilai ini pastinya akan berbeda pada saat pensiun nanti. Banyak orang-orang yang pada saat pensiun harus menjual asetnya untuk membiayai kesehatan. Nah, jika dana kesehatan sudah siap maka tidak perlu menjual aset.

Tujuan finansial di atas tadi harus disiapkan sedari dini. Silahkan membuat tujuan finansial lain. Dan mari berinvestasi. It is better now than never!

(dru/dru)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads