Beberapa program ekonomi yang akan diperjuangkan adalah pemerataan dan kemandirian. Marurar Sirait, Anggota Komisi XI DPR dari Fraksi PDI-P, menyatakan program yang sesuai dengan platform partainya bakal menjadi prioritas untuk diperjuangkan. PDI-P akan mencoba memperbaiki sejumlah kekurangan yang ada di periode sebelumnya.
“Selama ini pertumbuhan ekonomi memang sudah cukup baik. Namun yang menjadi masalah adalah gini ratio. Ini yang masih timpang,” tegas Maruarar, yang menjabat sebagai salah satu Ketua DPP PDI-P.
Gini ratio adalah indikator untuk mengukur ketimpangan pendapatan, dengan skala 0-1. Semakin mendekati 1, maka ketimpangan semakin tajam. Pada 2013, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat gini ratio Indonesia sebesar 0,41.
“Nantinya, kebijakan ekonomi yang diprioritaskan adalah kesejahteraan rakyat. Terutama kepada petani, nelayan, dan buruh,” ujar Maruarar.
Salah satu langkahnya, lanjut Maruarar, PDI-P akan memperjuangkan peningkatan akses perbankan untuk kelompok masyarakat yang masih marjinal. Ini akan dituangkan dalam amandemen UU Perbankan.
“Akses perbankan untuk nelayan, petani, dan buruh harus ditingkatkan. Harus ada langkah terobosan untuk itu. Inilah kelemahan kita, sehingga berdampak pada angka kemiskinan yang masih tinggi,” kata Maruarar.
Sementara dalam hal kemandirian, tambah Maruarar, salah satu sektor yang menjadi prioritas adalah energi. Impor energi yang meningkat menyebabkan transaksi berjalan menjadi defisit dan nilai tukar tukar rupiah melemah.
Langkah untuk menuju kemandirian energi adalah membangun kilang-kilang baru. “Ini juga diupayakan untuk dikerjakan dan dimiliki oleh BUMN atau perusahaan swasta nasional. Jangan sampai kita gagal dalam kemandirian energi,” tutur Maruarar.
Selain energi, industri manufaktur nasional juga harus dikembangkan sehingga Indonesia bisa memenuhi kebutuhannya sendiri. “Barang-barang yang sepele yang lagi kita impor, seharusnya bisa membuat sendiri. Kita harus membangun industri manufaktur domestik dan melindunginya,” ucap Maruarar.
PDI-P, demikian Maruarar, juga akan memperjuangkan konsolidasi BUMN. Menyatukan BUMN yang bergerak di bidang sama akan melahirkan efisiensi.
“Ini bisa perbankan, sekuritas, asuransi, dan sebagainya. Kalau dikonsolidasikan, maka akan tercipta perusahaan yang modalnya lebih kuat dan tentunya efisien,” sebut Marurarar.
(hds/DES)











































