Brankas Beijing, Di Bawah Tudingan Pencucian Uang Bandit China

Bisnis 'Brankas' Barang Mewah (4)

Brankas Beijing, Di Bawah Tudingan Pencucian Uang Bandit China

- detikFinance
Senin, 14 Apr 2014 17:44 WIB
Brankas Beijing, Di Bawah Tudingan Pencucian Uang Bandit China
Foto: Euroasia.biz
Jakarta - Freeport di China berdiri sejak akhir 2013 lalu. Lokasi bangunan seluas 83 ribu meter persegi itu tak jauh dari bandar udara internasional Beijing.

Freeport Beijing didirikan dengan bantuan dari Euroasia, perusahaan induk di belakang freeport Singapura yang berdiri pada 2010. Euroasia bekerjasama dengan organisasi bisnis milik pemerintah China, Beijing Gehua Cultural Development Group.

Gehua kabarnya mengucurkan US$ 802 juta untuk proyek itu. Gehua memperhitungkan, pendapatannya pada 2016 akan mencapai US$ 8 miliar. Gehua sendiri telah menggandeng Sotheby, perusahaan lelang asal Inggris untuk menjalankan lelang karya seni di luar freeport itu.

Seorang kolektor seni di China yang tak mau disebut namanya mengatakan, freeport di Beijing akan mengubah dunia seni China. Supremasi Hong Kong sebagai pusat seni China, kata dia, akan goncang.

Sedang Tony Reynard dari Singapore Freeport mengatakan pasar seni domestik di China sangat besar. Tapi freeport di Beijing juga penting bagi pasar seni internasional sebab fasilitas itu bebas pajak, atau minimal pajaknya kecil.

Orang tajir di China sedang keranjingan belanja karya-karya seni mahal, meski tren ini juga dibayang-bayangi aksi cuci uang hasil kejahatan. Industri seni di China saat ini telah mencapai US$ 16 miliar.

Upaya untuk menggairahkan pasar seni di China sebetulnya sudah dimulai sejak awal 2013, ketika pemerintah China mengurangi bea masuk untuk barang-barang seni impor. Nilainya yang semula 12 persen menjadi hanya 6 persen. Tapi itu hanya berlaku setahun.

Di samping bea masuk, importir karya seni di China masih harus membayar pajak pertambahan nilai sebesar 17 persen, plus pajak konsumsi tambahan sebesar 5 persen.

Freeport di Beijing dibangun sebagai tanggapan atas besarnya industri seni di China. Tapi ada bayang-bayang kejahatan di dalam industri ini. Pembelian karya seni diduga telah menjadi salah satu cara penjahat di China untuk mencuci uang hasil kejahatannya.

Melalui karya seni kriminal di China bisa membawa duit kejahatannya ke luar negeri. Regulasi di China mensyaratkan bahwa seorang pribadi hanya boleh mengalirkan duit ke luar China maksimal US$ 50.000 per tahun.

Karya seni menjadi opsi menarik karena harganya bisa bikin geleng kepala, ukurannya tak terlalu besar sehingga mudah untuk dipindahkan, serta tak terlalu sulit juga dipalsukan. Model pembayaran tunai membuat sulit melacak dari mana asal duit itu.

Bagaimana cara kerjanya? Orang kaya China membeli karya seni di daratan China lalu menjualnya dengan harga mahal melintasi perbatasan. Keuntungan atau labanya, biasanya dalam mata uang asing, kemudian dikantungi.

Metode lainnya adalah membeli karya seni dari luar China, biasanya melalui koneksinya. Si koneksi ini kemudian menyimpan sisa pembayaran –setelah komisinya dipotong—di rekening bank di luar negeri, yang dipilih oleh pembeli. Jika petugas pemerintah bertanya, mereka sudah punya bukti pembelian dan karya seninya.



(DES/DES)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads