PPnBM Naik, Orang Tajir Setop Belanja Ferrari?

Pajak Barang Mewah Naik (2)

PPnBM Naik, Orang Tajir Setop Belanja Ferrari?

- detikFinance
Rabu, 16 Apr 2014 11:44 WIB
PPnBM Naik, Orang Tajir Setop Belanja Ferrari?
Mobil-mobil mewah sedang mengisi bahan bakar di Jakarta. (Foto: M. Luthfi Andika/Detikcom)
Jakarta - Pemerintah telah resmi menaikan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah (PPnBM) untuk sejumlah produk otomotif. Tarif tertingginya naik dari 75 persen menjadi 125 persen, yang berlaku untuk mobil bermesin di atas 2.500 cc dan sepeda motor bermesin di atas 500 cc.

Kebijakan ini merupakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan impor. Diharapkan dengan kenaikan PPnBM maka permintaan terhadap produk otomotif premium akan turun dan kemudian diikuti dengan impornya.

Namun apakah kenaikan PPnBM efektif untuk mengurangi demand dan impor? Menurut Bambang Brodjonegoro, Wakil Menteri Keuangan, dampaknya tidak terlalu besar. Konsumen produk otomotif premium adalah mereka yang berduit, sehingga tidak terpengaruh kenaikan harga.

“Pembelinya orang kaya sehingga inelastis terhadap harga. Mau harganya dinaikkan, mereka sudah kaya,” tegas Bambang.

Konsumen produk otomotif premium biasanya membeli barang bukan berdasarkan kebutuhan, melainkan keinginan. “Kalau sudah kaya betul ya tetap beli. Meski kita naikkan PPnBM sampai 200 persen pun dia akan tetap beli," kata Bambang.

Kebijakan kenaikan PPnBM, lanjut Bambang, mungkin akan mempengaruhi konsumen yang di tengah-tengah. “Mungkin ada orang yang masih rada nanggung lah. Itu mungkin enggak jadi beli," ujarnya.

Sementara itu, hasil riset Bank Danamon pun menunjukkan hal yang hampir serupa. Kenaikan PPnBM hanya berdampak minimal terhadap upaya pengurangan impor, karena porsinya pun sedikit.

“Produk otomotif premium termasuk barang konsumsi. Saat ini, impor barang konsumsi hanya sekitar 7 persen dari total impor,” sebut riset Bank Danamon.

Kajian Citi Research pun menyatakan serupa. “Berdasarkan data dari BPS, pada 2012 impor mobil dengan mesin di atas 2.500 cc adalah sebesar US$ 229 juta. Angka ini hanya sekitar dua persen dari impor kendaraan bermotor dan suku cadangnya,” papar riset tersebut.

Sedangkan Sofjan Wanandi, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), menyambut positif langkah pemerintah menaikkan PPnBM produk otomotif premium. Menurut dia, memang harus ada sikap dari pemerintah untuk mengurangi minat impor barang konsumsi.

“Baik itu, kita harusnya dalam kondisi seperti ini tidak perlu belanja impor yang tidak penting. Seperti impor Ferrari, Lamborghini, dan mobil sport lainnya. Sebenarnya buat apa itu, tidak lihat masyarakat kita masih banyak yang miskin?” tegas Sofjan.

Pajak untuk barang tersier, lanjut Sofjan, memang seharusnya tinggi. “Itu kan barang-barang yang tak perlu, enggak penting. Makanya dikasih pajak yang tinggi. Kebutuhan pokok yang penting, sembako bukan mobil," sebutnya.

(hds/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads