Pemerintah baru saja merilis PP No 22/2014, yang isinya adalah kenaikan PPnBM untuk beberapa produk otomotif. Tarif tertingginya adalah 125 persen, berlaku untuk mobil dengan kapasitas mesin di atas 2.500 cc dan sepeda motor dengan mesin lebih dari 500 cc. Sebelumnya, PPnBM untuk kendaraan-kendaraan tersebut adalah 75 persen.
Salah satu produsen yang merasakan dampaknya adalah Ferrari. Maklum, supercar asal Italia ini biasanya didukung oleh mesin berkapasitas minimal 3.000 cc.
Kenaikan PPnBM diperkirakan dapat mempengaruhi kinerja Si Kuda Jingkrak di Indonesia. “Sangat sulit bagi kami karena ini tergantung bagaimana posisi pemerintah Indonesia terhadap pasar mobil mewah," kata Giuseppe Cattaneo, Managing Director Ferrari Far East.
Menurut Cattaneo, Indonesia sebenarnya sudah banyak menerapkan pajak untuk barang mewah. “Indonesia ada banyak pajak barang mewah. Masa depan kami tergantung pada berapa tinggi pajak yang ada," keluhnya.
Ferrari seperti yang dijelaskan pria asal Italia ini pun tidak ada langkah khusus untuk mengantisipasi tingginya pajak kendaraan di Indonesia.
Akibat kenaikan PPnBM, Ferrari kemungkinan besar akan menaikkan harga jual. “Kami tidak bisa sebutkan berapa,” ujar Cattaneo.
PT Citra Langgeng Otomotif, yang merupakan distributor Ferrari, juga akan terkena dampak dari kenaikan PPnBM. Penjualan diperkirakan turun, karena kenaikan PPnBM yang cukup signifikan.
“Dampak pada penjualan pastinya, karena kenaikannya agak signifikan. Dari 75 persen menjadi 125 persen sudah pasti akan berdampak pada penjualan,” kata Arie Christopher, CEO Citra Langgeng Otomotif.
Saat ini, Arie hanya bisa pasrah dan mencoba mencari strategi baru untuk mempertahankan kinerja. Dia berharap kebijakan ini hanya berdampak sementara dan nantinya pasar akan kembali pulih.
“Ini kan peraturan pemerintah, kita bisa apa? Strategi baru pasti akan kita cari. Pasar tentunya akan shock sedikit, tapi mudah-mudahan tidak akan berpengaruh lama," sebut Arie.
Mengenai potensi penurunan permintaan, Arie masih belum bisa menyebutkan angka yang pasti. “Saya belum tahu pasti berapa turunnya. Dampak langsungnya apakah ada pembatalan, atau pengurangan order," katanya.
(hds/DES)











































