Tingginya persentase masyarakat Singapura yang menggunakan angkutan umum, karena fasilitas transportasi publik yang tersedia nyaman, aman, cepat, dan murah. Jumlah penduduk di Jakarta saat ini sekitar 10 juta jiwa, sementara di Singapura sekitar 5 juta jiwa.
"Sekarang ini yang menggunakan angkutan umum 13%. Gap-nya tinggi. Maka harus ada pembangunan angkutan massal. Singapura sudah 60%," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta M. Akbar saat diskusi transportasi di Universitas Tarumanegara, Jakarta, Sabtu (19/4/2014).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk kejar Singapura 16 tahun lagi. Untuk mengejar 60%, pakai angkutan umum," jelasnya.
Untuk mendorong dan memaksa warga DKI Jakarta memakai transportasi publik, Pemprov DKI memiliki beberapa cara. Di antaranya merevitalisasi, mengembangkan, dan mengintegrasikan moda transportasi publik di DKI.
"Kembangkan angkutan umum massal BRT (bus way), MRT dan monorel. Kemudian revitalisasi angkutan jalan non busway," jelasnya.
Jika moda telah tersedia dengan nyaman, aman, terjangkau, dan cepat, maka masyarakat akan bersedia menggunakan moda transportasi. "Kalau hal itu belum tersedia jangan harap orang mau naik angkutan," jelasnya.
Namun belajar dari Singapura, meski telah tersedia MRT, bus, hingga monorel yang baik dan terintegrasi, tetapi masyarakat masih memilih memakai kendaraan pribadi. Alhasil pemerintah memaksa masyarakat berpindah.
"Seandainya MRT hadir ke Jakarta, nggak sekonyong-konyong pindah ke MRT. Motor kan paling cepat di Jakarta karena dia bisa naik trotoar. Bagaimana membuat angkutan pribadi mahal. Ada road pricing jadi dipaksa pindah," jelasnya.
(feb/dnl)











































