Dalam setahun, lebih dari 120 kilogram (kg) mutiara budidaya asal Banyuwangi diekspor ke perusahaan perhiasan di Australia.
Direktur PT. Disthi Mutiara Suci, Taufik Dwi Komara menjelaskan, lahan perairan seluas 400 hektar di Teluk Banyu Biru itu kini dihuni lebih dari 140 ribu kerang mutiara yang siap dipanen secara bertahap. Biasanya panen dilakukan 2 kali dalam setahun. Dalam sekali panen bisa dihasilkan sekitar 60 kg mutiara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Per gram mutiara, biasanya kami bisa menjual seharga Rp 150 ribu. Pertahun keuntungan sekitar Rp 2 miliar lah," jelas Taufik pada detikFinance saat berbincang di perairan Teluk Banyu Biru, Minggu (20/04/2014).
Terkait perawatan, setiap hari petugas hanya cukup membersihkan kotoran yang menempel di kerang dengan menyemprotkan air laut bertekanan tinggi. Sedang untuk kerang yang terjangkit penyakit "pantat merah", petugas hanya butuh garam sebagai obat mujarab penyembuhan.
Β
"Penting buat kita untuk menjaga kondisi perairan tetap alami tanpa pencemaran. Kita nggak pakai bahan kimia untuk perawatan, disemprot air laut tekanan tinggi setiap hari sudah cukup," imbuh pria yang miliki 2 putra tersebut.
Budidaya kerang mutiara ramah lingkungan tentu sangat di dukung oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Kepala Bidang Perikanan dan Budidaya pada Dinas Kelautan dan Perikanan (Dislautkan) Banyuwangi, Suryono Bintang menuturkan, sebelum ada budidaya kerang mutiara hampir semua terumbu karang di lokasi tersebut mati akibat pengeboman ikan dan penangkapan ikan dengan potasium. Namun kini, keberadaan budidaya kerang mutiara sangat membantu para nelayan karena bisa mengembalikan ekosistem ikan yang sudah mulai habis di perairan tersebut.
"Dengan adanya budidaya kerang mutiara daerah sini otomatis terjaga, terumbu karang tumbuh, dan ikan ikan pun kembali banyak lagi," jelasnya.
Sementara itu, ditemui terpisah Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas menambahkan, saat ini Teluk Banyu Biru merupakan lokasi satu-satunya pengembangan budidaya kerang mutiara. Masih ada beberapa lokasi perairan di Banyuwangi yang berpotensi untuk pengembangan investasi serupa.
Seperti di Teluk Kayu Aking, Setupen, Teluk Kremisan, Rajegwesi dan beberapa spot perairan di Pesanggaran. Untuk meningkatkan potensi kelautan sekaligus merehabilitasi biota laut, tentu Pemda akan mengijinkan investor masuk, asalkan para investor mau mengikuti rules yang berlaku di kabupaten ujung timur Pulau Jawa.
"Spot kita mutiara masih banyak tapi investornya masih belum banyak. Dengan potensi air yang masih baik dan jernih, pasti ini akan jadi nilai ekonomis yang bermanfaat. Dan yang pasti berbasis masyarakat," pungkas Anas.
(hen/hen)











































