Cerita Risma di Bursa Efek: Membuat Kebijakan Sampai Anak Diteror

Cerita Risma di Bursa Efek: Membuat Kebijakan Sampai Anak Diteror

- detikFinance
Senin, 21 Apr 2014 12:09 WIB
Cerita Risma di Bursa Efek: Membuat Kebijakan Sampai Anak Diteror
Foto: Risma di Bursa Efek Indonesia (Dewi-detikFinance)
Jakarta - Hari ini Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menjadi pembicara dalam acara peringatan Hari Kartini di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta. Risma bercerita soal pengalamannya sebagai seorang pemimpin wanita.

Wanita yang memiliki latar belakang pendidikan teknik ini menyatakan, dalam setiap keputusan yang diambil saat memimpin Surabaya, dia selalu membuat rangkaian pertimbangan.

"Pengambilan keputusan selalu saya rangkai, apakah ini merugikan orang lain. Dampaknya ke orang lain, kalau memang merugikan banyak orang saya yang ngalah, tapi kalau banyak menguntungkan ya diperjuangkan," ujar Risma dalam acara yang dihadiri direksi dan 200 karyawan BEI di Gedung BEI, SCBD, Jakarta, Senin (21/4/2014).

Risma mengatakan, membuat kebijakan penuh dengan risiko dan tanggung jawab besar. Bahkan pernah, anaknya diteror karena kebijakan yang dibuat Risma.

"Saat saya membuat kebijakan, sampai anak saya diteror macam-macam. Tapi yang sudah, saya sudah pasrah saat itu. Bahkan teman-teman di pemerintahan banyak yang musuhin saya. Tapi ini untuk masyarakat, karena banyak berguna untuk masyarakat Surabaya," tutur Risma.

Pada kesempatan itu, Risma juga menceritakan soal taman-taman yang dibuatnya di Surabaya. Dia memiliki konsep untuk menjadikan taman sebagai pertemuan antara semua masyarakat, yang kaya dan miskin, serta yang hitam dan putih.

"Tidak ada taman rusak dengan sengaja dicorat-coret. Boneknya di mana? Boneknya sudah takluk sama emaknya. Jadi taman buat anak-anak bermain skateboard. Ada juga yang mendayung," jelasnya.

Kemudian, di Surabaya juga tidak ada pengamen lagi. Karena Risma mengatakan, dirinya meminta pengamen untuk bermain di taman dan dibayar Rp 2,5 juta sekali main. "Jadi pengamen tidak boleh menaruh kaleng dan minta-minta. Jadi mereka untuk hiburan gratis warga," jelas Risma.

"Di Surabaya aman karena angka kejahatan terus turun. Surabaya termasuk 10 kota di dunia yang sangat aman. Termasuk di taman kami ada CCTV, jadi kalau pacaran kelihatan CCTV. Jam sekolah tidak boleh ada yang di taman, di warnet takut ke satpol PP," ujar Risma.

(dnl/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads