Direktur Jasa Marga Adhityawarman mengatakan, ketiga perusahaan tersebut berasal dari tiga negara berbeda. Mereka berasal dari Malaysia, Jepang, dan Korea Selatan.
"Tanda tangan nota kesepahamannya sudah. Mereka adalah West Nippon Expressway Company Limited dan Japan Expressway International Company Limited dari Jepang, POSCO Engineering & Construction Co., Ltd dari Korea, dan CMS Works International Limited dari Malaysia," kata Adhit keterangan yang diterima, Rabu (23/4/2014).
Penandatanganan nota kesepahamkan tersebut dilakukan Jasa Marga dengan ketiga perusahaan tersebut pada Forum bisnis konferensi REAAA (Road Engineering Association of Asia and Australia) di Nusa Dua, Bali, kemarin.
Dia menyebutkan, meski Jasa Marga adalah pemimpin pasar di industri tol Indonesia, untuk membangun dan mengembangkan tol di Indonesia, tetap diperlukan kerjasama dengan pihak lain.
"Kita bisa belajar dari mereka, sekaligus transfer ilmu teknologi terkini di bidang industri jalan tol," katanya.
Ia memberikan contoh, Jepang dikenal memiliki keunggulan teknologi tol di atas laut sehingga Indonesia perlu belajar dari mereka. Jepang nantinya dimungkinkan untuk bersama-sama perseroan menggarap tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi.
"Kemudian untuk swasta Jepang, ada kemungkinan diajak untuk proyek tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. Kami baru menang tender di situ," katanya.
Selain itu, Ia memberikan contoh, pada tahap awal ada peluang mengajak swasta Korea Selatan untuk membangun tol Menado-Bitung.
"Kami mendapat dukungan dari Pemrov Sulawesi utara dan ada kemungkinan ini inisiatif Jasa Marga untuk membangun tol ini," katanya.
Sedangkan untuk perusahaan swasta dari Malaysia akan diajak bekerjasama untuk pembangunan tol Kunciran-Cengkareng dan pendukung tambahan di ruas Daan Mogot-Cengkareng sepanjang 3,45 km.
"Nantinya, mereka akan digandeng dengan komposisi Jasa Marga tetap mayoritas," katanya.
Adityawarman menambahkan, intinya dengan menggandeng swasta asing itu ada transfer teknologi sehigga diperoleh efisiensi misalnya biaya konstruksi yang lebih kompetitif.
REAAA merupakan organisasi yang berkecimpung dalam pengembangan teknik jalan yang berdiri sejak 1973 dan Indonesia adalah salah satu negara pencetusnya.
Organisasi ini diwakili oleh 11 negara yaitu Australia, Brunei Darussalam, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, New Zealand, Filipina, Singapura, Taiwan, dan Thailand.
(zul/ang)











































