Pemerintah Jepang Pertanyakan Kenaikan BBM RI
Rabu, 15 Des 2004 16:54 WIB
Jakarta - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro mengatakan, delegasi Menteri Perekonomian, Perindustrian dan Perdagangan (METI) Jepang mempertanyakan masalah kenaikan harga BBM dan listrik yang dinilai bisa membuat industri mereka tidak kompetitif. Mereka mengkhawatirkan kenaikan BBM itu bisa membuat industrinya tidak kompetitif."Mereka juga menanyakan tentang kenaikan BBM dan listrik di Indonesia yang akan membuat industri meraka tidak kompetitif. Karena mereka mengimpor dari Indonesia," ujar Purnomo dalam konferensi pers usai menerima METI di Kantor DESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (15/12/2004). Dalam kunjungannya kali ini, delegasi Jepang berjumlah 36 dan dipimpin oleh Shoichi Nakagawa.Menanggapi kekhawatiran itu, Purnomo mengaku pihaknya menjelaskan bahwa meski ada kenaikan BBM, namun economic price-nya masih murah dibandingkan negara lain. Purnomo mencontohkan harga BBM di Timur Tengah yang mencapai Rp 4000 per liter, sementara di Indonesia masih dibawah Rp 3000 per liter.Dalam kesempatan itu, Purnomo juga mengungkapkan bahwa delegasi Jepang itu juga menyatakan minatnya untuk melakukan investasi geothermal, BMG Iklim Project yang merupakan penemuan terbaru Jepang dan tengah dicoba di Laoangan Sonora milik Medco.BMG ini ditransfer untuk menggantikan LNG karena lebih murah dan juga menjadi pengganti bahan bakar CNG (Compressed natural gas) pembangkit listrik pengganti bahan bakar gas. "Mereka juga akan turut serta dalam proyek-proyek listrik, gas, minyak terutama infrastruktur," papar Purnomo. Purnomo juga menjelaskan bahwa dalam pertemuannya itu, pemerintah Indonesia juga memberi penjelasan tentang struktur listrik di Indonesia dimana untuk kategori industri memang tinggi. "Ini dikarenakan subsidi silang terhadap golongan yang tidak kuat yaitu S1 dan RI seperti masjid dan rumah sosial. Maka harga harus dinaikkan," ujar Purnomo.
(qom/)











































