Antrian pesawat take off (lepas landas) dan landing (mendarat) di Bandara Soetta mulai berkurang kepadatannya.
"Cengkareng relatif sudah lebih baik. Karena pemaksaan terhadap pesawat. Sebelumnya nggak semua maskapai mau terbang dari landasan ke-2. Sekarang dipaksa. Kalau nggak mau mendarat, nggak diberi terbang. Akhirnya nggak imbang landasan 1 dan 2. Sekarang diimbangkan pemanfaatan landasan 1 dan 2. Landasan 2 terisi dengan baik. Sekarang jarang ada antrian sampai 5-6 pesawat. Dulu pernah antri 14," kata Menteri BUMN Dahlan Iskan usai rapim di kantor pusat GMF AeroAsia, Cengkareng, Kamis (24/4/2014).
Keengganan maskapai memakai landasan ke-2 karena jarak menuju parkir atau apron pesawat relatif jauh sehingga maskapai lebih sukan take off dan landing di landasan ke-1.
Diakui Dahlan, AP II dan Perum Navigasi mampu bersinergi mengatur lalu lintas pesawat di Bandara Soetta. Peningkatan frekuensi pesawat take off dan landing terus meningkat. Frekuensi akan menyentuh angka 90 per jamnya pada tahun 2015.
"Sebelum diatur hanya 56. Perbaiki manajemen jadi 64. Nanti 2 bulan lagi bisa 72. Tahun depan bisa 90. Memang belajar dari Bandara Heathrow. Heathrow cuma ada 2 landasan. Di sana bisa 100 take off dan landing," sebutnya.
Alhasil makin baiknya pengaturan lalu lintas pesawat di Bandara Soetta membuat pemanfaatan Bandara Halim Perdanakusuma sebagai bandara alternatif menjadi tidak mendesak lagi. Bandara Halim awalnya dioperasikan secara komersial karena digunakan sebagai bandara pendukung untuk mengurai kepadatan lalu lintas pesawat di Bandara Soetta.
"Mungkin urgency Halim nggak tinggi lagi," sebutnya.
Saat ditanya apakah ada opsi membangun landasan baru atau bandara baru sebagai pendukung Bandara Soetta, Dahlan hanya menyebut cukup dengan melakukan penataan manajemen bandara.
"Lebih bagus manajemen yang diatur," katanya.
(feb/ang)











































