Kepala BKPM Mahendra Siregar mengatakan untuk PMDN, investasi terbesar ada di DKI Jakarta dengan porsi 23,9% atau Rp 8,3 triliun. Kemudian disusul Jawa Barat 23,3% atau Rp 8,1 triliun, dan Jawa Timur 22,3% atau Rp 7,7 triliun.
Selanjutnya adalah Jawa Tengah 22,3% atau Rp 3,3 triliun, Kalimantan Barat 4,5% atau Rp 1,6 triliun, dan daerah lainnya total 16,4% atau Rp 5,6 triliun.
"Investasi PMDN masih paling besar ada di Jakarta dengan 36 proyek," kata Mahendra dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (24/4/2014).
Sementara PMA, terbesar adalah di Jawa Barat dengan porsi 25,8% atau US$ 1,8 miliar. Selanjutnya adalah Kalimantan Timur 11,6% atau US$ 800 juta, Riau 9% atau US$ 600 juta, Banten 8,6% atau US$ 600 juta, DKI Jakarta 6,1% atau US$ 400 juta, dan lainnya 38,9% atau US$ 2,7 miliar.
"Investasi untuk PMA itu paling besar di Jawa Barat dengan 506 proyek," kata Mahendra.
Bila dibagi secara sektoral, investasi terbesar ada di sektor listrik, gas, dan air untuk PMDN dan sektor pertambangan untuk PMA.
Berikut rinciannya :
PMDN Rp 34,6 triliun
- Listrik gas dan air: Rp 11,3 triliun (32,8%)
- Industri makanan: Rp 4,8 triliun (14%)
- Perumahan, kawasan industri, dan perkantoran: Rp 4,6 triliun (13,2%)
- Transportasi, gudang, dan telekomunikasi: Rp 3,1 triliun (8,8%)
- Konstruksi: Rp 2,3 triliun (6,6%)
- Lainnya: Rp 8,5 triliun (24,6%)
- Pertambangan: US$ 1,7 miliar (2,4%)
- Industri makanan: US$ 800 juta (11,4%)
- Industri alat angkutan dan transportasi: US$ 600 juta (8,8%)
- Tanaman pangan dan perkebunan: US$ 600 juta (8,4%)
- Industri kertas, barang dari kertas, dan percetakan: US$ 500 juta (7,5%)
- Lainnya: US$ 2,7 miliar (39,9%)











































