Ramal-meramal, Bisnis yang Menjamur (Lagi)

Bisnis Meramal (1)

Ramal-meramal, Bisnis yang Menjamur (Lagi)

- detikFinance
Jumat, 25 Apr 2014 09:01 WIB
Ramal-meramal, Bisnis yang Menjamur (Lagi)
Rendy Fudoh, seorang peramal dengan kartu tarot di Jakarta. (Foto: Hidayat Setiaji/Detikcom)
Jakarta - Manusia memang tidak bisa mengetahui masa depannya. Namun rasa penasaran terhadap apa yang akan terjadi pada masa depan selalu menggelitik. Entah hanya rasa penasaran atau ingin membuat persiapan, kita selalu ingin mengintip apa yang terjadi di kemudian hari.

Berbagai cara sudah dilakukan untuk bisa mengetahui masa depan, alias meramal. Aktivitas ramal-meramal ini memang sudah ekisis sejak ribuan tahun yang lalu.

Namun, aktivitas ini kerap kali menimbulkan kontroversi terutama ketika manusia mulai mengenal agama. Meramal sering dilarang bahkan mendapat label haram karena mencari jawaban di luar yang sudah disediakan oleh agama dan kitab suci.

Meski demikian, ramal-meramal tetap bisa bertahan sampai sekarang. Meski label negatifnya belum sepenuhnya hilang, tetapi secara umum masyarakat sudah bisa menerima aktivitas ini.

Ramal-meramal pun sejak dulu sudah menjadi mata pencarian. “Sesuatu yang supranatural selalu bisa bertahan di tengah masyarakat, tidak terkecuali ramalan. Bahkan ramalan sudah menjadi semacam jasa yang bisa diperdagangkan,” kata Ken Feingold, penulis buku Interactive Art as Divination as a Vending Machine.

Salah satu media untuk meramal adalah kartu tarot. Kartu ini berasal dari Italia dan sudah ada sejak abad pertengahan. Terdapat 78 kartu yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu arcana mayor dan arcana minor. Sejak dulu, kartu tarot memang menjadi medium untuk meramal masa depan.

Bagi sebagian orang, kemampuan untuk meramal dengan tarot mungkin tidak dimanfaatkan untuk mendapat kepentingan ekonomi. Hanya hobi atau membantu mereka yang membutuhkan ‘pencerahan’.

Namun bagi yang lain, kemampuan ini bisa menghasilkan fulus. BBC pernah melaporkan bahwa 1 dari 7 orang di Amerika Serikat pernah berkonsultasi dengan peramal.

Di New York, peramal dan pembaca kartu tarot tersebar di hampir seluruh blok. Tarifnya pun beragam, mulai dari US$ 5 (Rp 50 ribu) sampai lebih US$ 100 (Rp 1 juta) untuk sekali konsultasi. Di Indonesia, bisnis semacam ini pun mulai ramai.

Menjamurnya bisnis ini membuat pemerintah di AS merasa perlu mengintervensi. Ini karena ada saja penyedia jasa ramalan yang ternyata palsu dan merugikan konsumen.

Di Michigan, misalnya, ada kontrol yang cukup ketat untuk membuka usaha ramalan. Harus ada pemeriksanaan latar belakang oleh kepolisian, izin dari pemerintah, serta dikenakan iuran tahunan sebesar US$ 160 (1,6 juta).

Rosemary McArthur, pendiri American Association of Psychics and Healers, menyatakan tidak keberatan dengan regulasi yang lebih ketat. “Banyak orang yang sudah tertipu sampai ribuan dolar,” ujarnya.

Namun, McArthur juga mempertanyakan kebijakan ini. “Bagaimana seseorang yang tidak punya kemampuan supranatural, dan mungkin tidak percaya juga dengan yang seperti itu, kemudian mengadukan kami karena merasa tertipu? Bagaimana menguji kebenarannya?” tegas perempuan yang dikenal dengan nama Celtic Lady tersebut.

(hds/DES)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads