Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 25 Apr 2014 12:45 WIB

Bisnis Meramal (3)

Ada Anggota DPR dan KPK Pelanggan Peramal Ini

- detikFinance
Rendy Fudoh sedang melayani kliennya. (Foto: Dok. Pribadi) Rendy Fudoh sedang melayani kliennya. (Foto: Dok. Pribadi)
Jakarta - Ramal-meramal telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, tidak terkecuali di Indonesia. Empu-empu masa kerajaan kerap kali mengeluarkan kitab-kitab yang berisi ramalan masa depan.

Hingga kini, ramal-meramal masih menjadi bagian dari masyarakat Indonesia. Hanya saja sekarang metode lebih beragam. Banyak pula peramal yang menggunakan metode dari barat, seperti kartu tarot.

Kartu tarot berasal dari Italia dan sudah ada sejak abad pertengahan. Terdapat 78 kartu yang terbagi dalam dua kelompok besar yaitu arcana mayor dan arcana minor. Sejak dulu, kartu tarot memang menjadi medium untuk meramal masa depan.

Laurensius Rendy, yang dikenal dengan nama Rendy Fudoh, adalah seorang pembaca tarot. Laki-laki berusia 28 tahun ini tidak membuka tempat khusus untuk konsultasi. “Saya melayani konsultasi privat baik bertemu langsung, telepon, atau Yahoo Massenger,” katanya.

Rendy mulai belajar membaca tarot sejak 2006, dan mulai memberanikan diri membuka konsultasi sejak 2009. Kini sudah sekitar 500-600 klien yang ditanganinya, mulai dari pengusaha, olahragawan, artis, sampai politisi dan pejabat.

“Ada orang-orang KPK, kepolisian, dan anggota DPR yang berkonsultasi kepada saya. Kalau artis, ada beberapa mantan artis cilik lah. Tapi kebanyakan pengusaha,” kata Rendy yang enggan menyebutkan pendapatannya dari konsultasi.

Rendy menyediakan jasa konsultasi berdasarkan permintaan klien. “Urusan bisnis, percintaan, apa saja. Saya menyesuaikan dengan apa maunya klien,” ujarnya.

Awalnya, Rendy terjun ke dunia tarot dari hobi mengoleksi kartu bergambar. Lalu kemudian Rendy mencoba untuk belajar membaca kartu tarot, dan akhirnya ketagihan. “Membaca kartu tarot itu belajar psikologi juga,” ujarnya.

Rendy menilai konsultasi tarot bisa menjadi bisnis yang menguntungkan, meski dia enggan menyebut pendapatannya. “Ini memang bisa menjadi mata pencarian. Namun memang lebih bagus kalau menjadi sarana networking, bukan hanya bisnis,” katanya.






(hds/DES)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com