Setengah Penumpangnya 'Disedot' Penerbangan Murah, Ini Siasat Pelni

Setengah Penumpangnya 'Disedot' Penerbangan Murah, Ini Siasat Pelni

- detikFinance
Senin, 28 Apr 2014 15:15 WIB
Setengah Penumpangnya Disedot Penerbangan Murah, Ini Siasat Pelni
Jakarta - Bisnis BUMN pengelola transportasi kapal laut PT Pelni (Persero) saat ini makin sulit, karena pesatnya perkembangan penerbangan berbiaya murah (low cost carrier/LCC). BUMN ini bikin siasat baru.

Direktur Utama Pelin Syahril Japarin mengatakan, pihaknya tengah menjajaki pengelolaan terminal penumpang yang di bawah naungan BUMN pelabuhan, seperti Pelindo I hingga IV, dan pelabuhan di bawah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Perhubungan.

Langkah ini merupakan salah upaya dari Pelni meningkatkan pelayanan kepada pengguna jasa dan meningkatkan portofolio bisnis.

"Ini bagi Pelni penting. Karena penumpang dan barang naik ke kapal dari terminal harus teratur," kata Direktur Utama Pelni Syahril Japarin saat jumpa pers di kantor pusat Pelni, Jakarta, Senin (28/4/2014).

Pelni saat ini memiliki 24 unit kapal. Dari 24 kapal tersebut, armada laut Pelni singgah di 95 pelabuhan yang dikelola Pelindo dan UPT.

Untuk rencana awal, Pelni akan membidik pengelolaan terminal penumpang di Pelabuhan Tanjung Priok. Selama ini terminal tersebut dikelola oleh PT Pelindo II. Pelni sendiri telah menjalin komunikasi dengan Pelindo II.

"Pengelolaan pelabuhan sepakat dengan Pelindo II untuk kelola terminal penumpang. Ini baru dijajaki," sebutnya.

Sementara untuk terminal penumpang di bawah UPT, Pelni sedang menjalin koordinasi dengan Kementerian Perhubungan selaku pemilik pelabuhan. Namun Syahril tak menyebut alokasi investasi yang digelontorkan perseroan untuk mengelola dan mengoperasikan terminal penumpang.

"Kami sudah sampaikan ke pak Menteri Perhungan untuk kelola terminal penumpang yang nggak dikelola Pelindo," jelasnya.

Pelni memang terus mencatat penurunan drastis jumlah penumpang pasca adanya maskapai biaya murah. Penumpang kapal Pelni turun hingga 50%, sedangkan beban operasional terus menanjak. Untuk menyiasati hal tersebut, Pelni mengubah pola bisnis dengan meningkatkan bisnis angkutan kargo dan melakukan konversi bahan bakar dari BBM ke BBG. Pasalnya 50%-60% biaya operasi disumbang dari BBM.

"Bisnis sudah nggak mudah. Terakhir kita lihat perkembangan pesawat LCC. Itu menyedot setengah penumpang Pelni. Kami lakukan berbagai efisiensi di berbagai lini," papar Syahril.

(feb/dnl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads