Serikat Buruh di Singapura Bisa Kuasai Bisnis Ritel dan Properti

Serikat Buruh di Singapura Bisa Kuasai Bisnis Ritel dan Properti

- detikFinance
Rabu, 30 Apr 2014 14:34 WIB
Serikat Buruh di Singapura Bisa Kuasai Bisnis Ritel dan Properti
Jakarta - Perhimpunan serikat buruh di Singapura atau National Trades Union Congress (NTUC) punya karakter yang unik dan bisa menjadi contoh bagi serikat buruh di negara lain. Selain sebagai wadah aspirasi buruh, NTUC juga terjun ke bisnis dan menguasai bisnis ritel dan properti hotel di Singapura

"Cara mereka (NTUC) cukup profesional. Mengumpulkan iuran dari para anggota buruh dan sekarang mereka sudah membuka bisnis transportasi taksi, ritel bahkan hotel," ungkap Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Andi Gani Nena Wea saat berdiskusi dengan media dengan tema "Merumuskan Produktivitas Kita" di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta, Rabu (30/04/2014).

Ia menjelaskan 40% keberadaan hotel di sepanjang Jalan Orchard, Singapura adalah milik NTUC. Sedangkan untuk bidang ritel, NTUC memiliki jaringan ritel terbesar dan terluas di Singapura yang diberi nama Fairprice.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Andi menuturkan, Fairprice merupakan koperasi konsumen yang pendirinya diprakarsai oleh NTUC pada 1973. Melalui 180 gerai, Fairprice menguasai 50% pasar ritel Singapura.

NTUC beranggotakan 65 serikat buruh dan 6 perkumpulan karyawan, yang mewakili sekitar jutaan orang buruh di Singapura. Besarnya pendapatan dari bisnis yang dikelola NTUC, membuat jabatan ketua konfederasi NTUC digaji hingga Rp 450 juta/bulan.

"Rp 450 juta adalah gaji presiden buruh di Singapura. Mereka (NTUC) bisa atur kebijakan negara. Fairprice itu punya NTUC, kemudian NTUC mempunyai 40% hotel yang berada di sekitar Jalan Orchard," jelasnya.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads