Tutup Defisit, Pemerintah Andalkan Utang Luar Negeri
Kamis, 16 Des 2004 12:36 WIB
Jakarta - Pemerintah akan tetap mengandalkan utang luar negeri untuk menutup defisit APBN 2005 yang direncanakan diperlonggar menjadi 1 persen dari target semula 0,8 persen. Utang luar negeri menjadi bagian penting karena BUMN yang potensial untuk diprivatisasi telah terlaksana privatisasinya. "Sebagian besar dari utang. Sekarang masih dihitung kembali karena defisit membengkak dari 0,8 persen menjadi 1 persen," kata Dirjen Perbendaharan Mulia P Nasution di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Kamis (16/12/2004).Menurut Mulia, pemerintah pada tahun 2005 nanti sudah tidak bisa mengharapkan pendapatan yang besar dari privatisasi BUMN karena hampir semua BUMN yang potensial selain BNI sudah dilakukan privatisasi. Disamping berupa pinjaman dari luar negari, pemerintah berharap pengembalian-pengembalian dari luar negeri yang selama ini dipinjam BUMN/BUMD melalui rekening dana investasi (RDI).Mengenai realisasi defisit dalam APBN 2004, Mulia menjelaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjaga defisit pada kisaran 1,3 - 1,5 persen. "Kalau lebih dari itu tidak mungkin. Kalau kurang itu yang kita harapkan karena kalau defisit membengkak akan sulit mencari pembiayaannya," Saat ini, lanjut dia, pemerintah terus mengexercise cara pembiayaan defisit diantaranya melalui peningkatan pendapatan dan pengendalian belanja. "Pendapatan kalau tidak mungkin melebihi ya, setidaknya mendekati pagu. Tapi kalau belanja harus dikendalikan, jangan melampaui pagu yang disetujui," tukas Mulia.Sebelumnya, Meneg PPN/Kepala Bappenas Sri Mulyani Indrawati menjelaskan, pada tahun 2005 nanti pemerintah menargetkan pembiayaan defisit sebesar 1 persen dimana separuhnya akan dibiayai dari pinjaman CGI.
(qom/)











































