Beberapa bulan pasca groundbreaking, tanda-tanda kelanjutan konstruksi skala besar sama sekali tak tampak alias mandek. Apa respons Kementerian Perhubungan (Kemenhub) sebagai regulator transportasi Indonesia terhadap kelanjutan proyek monorel?
Direktur Lalu Lintas dan Angkatan Kereta Api Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kemenhub Hanggoro Budi Wiryawan menjelaskan proyek monorel yang dikerjakan Jakarta Monorail tetap berjalan. Bahkan perusahaan milik Edward Soeryadjaya itu telah bertemu dan berkonsultasi dengan Kemenhub.
βJadi 2 minggu lalu kita ketemu tim dari Jakarta Monorail. Kita full team. Pertemuan itu dibuka sebentar Pak Wamen, beliau sangat antusias dorong Jakarta Monorail. Apa perizinan di sisi kita untuk diminta dipercepat,β ungkap Hanggoro kepada detikFinance di Kementerian Perhubungan, Jakarta, Rabu (30/4/2014).
Di depan regulator, lanjut Hanggoro, Jakarta Monorail menjelaskan perkembangan proyek hingga kendala yang dihadapi.
βProgress untuk Jakarta Monorail saya quote penjelasan mereka. Mereka dalam proses memenuhi beberapa persyaratan terkait Kerjasama Pemerintah Swasta (KPS),β katanya.
Pada pertemuan tersebut, tambah Hanggoro, Jakarta Monorail menyampaikan tarif tiket monorel berada pada kisaran Rp 9.000. Namun Pemprov DKI Jakarta seperti disampaikan Jakarta Monorail, berkeinginan tarif jangan terlalu tinggi sehingga dapat membebani penumpang.
βDiharapkan tarif dari tiket itu 20-30% saja, selebihnya dari properti. Mereka sudah dalam proses (pendapatan) untuk mencapai komposisi 70 (area komersial) : 30 (tiket) atau 80 : 20,β jelasnya.
Hanggoro menerangkan rute monorel green line dan blue line merupakan area bisnis di jantung kota Jakarta. Sehingga Pemprov DKI dan Jakarta Monorail masih menghitung nilai sewa pemanfaatan lahan yang akan dikembangkan untuk area komersial seperti mal.
βIni ada beberapa belum memenuhi permintaan DKI, karena lahan yang digunakan itu prime area semua. Tapi kami yakin ini akan berproses untuk penyelesaiannya. Kami berharap akan berjalan,β tuturnya.
Hanggoro tidak menampik anggapan yang menilai monorel hanya merupakan moda transportasi untuk aktivitas jarak pendek atau jalur makan siang.
βMonorel untuk menghubungkan beberapa kebangkitan ekonomi, beberapa CBD (area bisnis dan perkantoran) yang ada. Bukan seperti MRT yang kecepatan tinggi dan long distance. Mereka cukup 1 km berhenti, menghubungkan titik-titik CBD,β jelasnya.
(feb/hds)











































