Buruh Minta Biaya Parfum, Pengusaha Masih Pusing Kenaikan Tarif Listrik

Buruh Minta Biaya Parfum, Pengusaha Masih Pusing Kenaikan Tarif Listrik

- detikFinance
Jumat, 02 Mei 2014 12:45 WIB
Buruh Minta Biaya Parfum, Pengusaha Masih Pusing Kenaikan Tarif Listrik
Jakarta - Pengusaha di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) sangat terpukul dengan kenaikan tarif listrik yang mencapai 38% hingga 64% mulai 1 Mei 2014. Hal ini diperparah dengan tuntutan buruh yang meminta kenaikan upah untuk 2015 hingga 30% termasuk penambahan Kebutuhan Hidup Layak (KHL) seperti parfum,koran,pulsa dan lainnya.

Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Ade Sudrajat mengibaratkan usaha di sektor TPT bagai ungkapan sudah jatuh tertimpa tangga. Ia beralasan setiap tahun upah terus menerus naik ditambah kenaikan tarif listrik yang juga naik.

"Kenaikan upah dan KHL tidak bisa dipenuhi oleh kita. Sulit, karena kita baru mengalami kenaikan listrik yang luar biasa," kata Ade saat dihubungi detikFinance, Jumat (2/5/2014).

"Kalau dari tekstil sulit (memenuhi), terserah sektor lain," imbuhnya.

Ade mengatakan, tuntutan buruh untuk naik upah berdasarkan penambahan KHL yang mencakup parfum, pulsa dan lainnya cenderung tak masuk di akal.
Buruh memang mendesak KHL ditambah dari 60 komponen menjadi 84 komponen.

"Bagaimana bisa mengubah KHL-nya dengan memasukan parfum, lipstick dan lain-lain, saya kira itu mau bekerja atau jadi anggota DPR?" tambah Ade.

Ade mengatakan, Indonesia tak lagi akan menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya, jika semua permintaan buruh dipenuhi oleh pemerintah.

"Semuanya naik, kita listrik hampir tiap tahun, bukan kali ini saja, sekarang gila 38% sama 64%. Itu keterlaluan. Dengan kenaikan listrik saja sudah efisiensi. Tambah ini (upah) menjadi-jadi. Jadi investor mana yang mau masuk?" tanya Ade.

(zul/hen)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads