Lonjakan Impor Cabai Terjadi Saat Panen Raya

Lonjakan Impor Cabai Terjadi Saat Panen Raya

- detikFinance
Senin, 05 Mei 2014 11:52 WIB
Lonjakan Impor Cabai Terjadi Saat Panen Raya
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan volume impor cabai (awet sementara) sebesar 100% pada Maret 2014. Padahal periode itu merupakan masa panen raya para petani cabai lokal.

Ketua Umum Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia Dadi Sudiana tak habis pikir dengan adanya data impor cabai pada panen raya. Menurutnya panen raya sudah berlangsung sejak Februari, Maret, April, hingga Mei 2014.

"Seharusnya nggak perlu impor, petani kasihan dong petani," katanya kepada detikFinance, Senin (5/5/2014)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya panen raya tahun ini sudah dinanti oleh para petani, sebab tahun lalu banyak gagal panen karena curah hujan maupun dampak letusan gunung di sentra tanaman cabai.

"Produksi cabai besar tahun lalu sekitar 700.000 ton, cabai rawitnya 500.000 ton. Sekarang lagi panen di Lombok, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah," katanya.

Dadi berharap musim panen cabai yang secara langsung berdampak pada penurunan harga tak diperparah dengan cabai impor. Saat ini harga cabai besar di tingkat petani Rp 7.000-8.000/Kg padahal sebelum musim panen mencapai Rp 20.000/Kg. Sedangkan cabai rawit saat ini sudah turun menjadi Rp 15.000/Kg dari sebelumnya Rp 40.000 di tingkat petani.

Dani menambahkan di dalam negeri pasokan cabai non segar atau olahan seperti cabai kering giling/tumbuk masih terbatas, sehingga untuk memenuhi pasokan domestik masih perlu impor.

"Kalau lagi cabai mahal, produk cabai giling mahal jadi nggak terkejar, 1 Kg butuh 8 Kg cabai segar. Kalau harga cabai kering lebih murah produk impor karena produktivitas tinggi, jadi kita masih impor," katanya.

BPS mencatat impor Cabai awet sementara pada Maret 2014 sebesar 430 ton atau senilai dengan US$ 509 ribu. Jauh lebih tinggi bila dibandingkan dengan Februari yang hanya sebesar 213 ton atau US$ 211 ribu atau melonjak 100% secara volume.

Sementara untuk cabai kering tumbuk, impornya bulan Maret mencapai 2.169 ton atau US$ 2,5 juta. Secara volume naik 592 ton dari Februari yang sebesar 1.577 ton (30%) atau US$ 1,9 juta.

Dihubungi terpisah Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian Hasanuddin Ibrahim menanggapi soal informasi data BPS tersebut. "Harus dilihat dulu, cabai olahan atau cabai segar?" tanya Hasanuddin.

(hen/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads