Sherpa, Bisnis yang Dekat dengan Kematian

Setelah Tragedi Everest (5)

Sherpa, Bisnis yang Dekat dengan Kematian

- detikFinance
Senin, 05 Mei 2014 16:56 WIB
Sherpa, Bisnis yang Dekat dengan Kematian
Foto: Reuters
Jakarta - Kecelakaan di Everest pada 18 April lalu tak mengejutkan sebagian komunitas Sherpa. Nima Wangchu Sherpa, 57 tahun, yang tumbuh besar di Khumjung, di timur laut Nepal, ingat bahwa ibunya pernah meminta ayahnya berhenti membawa beban ke puncak gunung itu.

“Banyak teman ayah yang mati di sana, jadi ibu memintanya berhenti,” kata Wangchu Sherpa dari kediamannya kini di Santa Barbara, California.

Ayahnya pernah menjadi bagian dari ekspedisi tahun 1953 yang dipimpin oleh Sir Edmund Hillary dan Sherpa dari Nepal, Tenzing Norgay. Sang ayah kemudian mendapat pekerjaan di lembaga nirlaba yang didirikan Hillary, Himalayan Trust, yang kemudian memberikan beasiswa untuk Wangchu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sejak ekspedisi pendahuluan itu, kata “Sherpa” kemudian sinonim dengan “Pemandu Gunung”. Meski begitu, ada juga Sherpa yang berprofesi lain, seperti bertani kentang atau menjadi praktisi hukum di Kathmandu, Nepal.

Sherpa adalah kelompok etnis yang didominasi pemeluk Buddha, yang berakar dari Tibet. Sher berarti 'timur' dan Pa berarti 'Orang'. Orang Sherpa adalah keturunan orang Tibet timur yang bermigrasi ke Nepal sekitar 300-400 tahun lalu.

Sumber sejarah lain menyebutkan, mereka pertama kali menetap di Distrik Solukhumbu, Nepal. Setelah itu mereka secara teratur bergerak ke barat di sepanjang rute perdagangan garam.

Menurut tradisi setempat, empat kelompok Sherpa bermigrasi ke luar Solukhumbu dalam waktu yang berbeda, sehingga melahirkan empat klan: Minyagpa, Thimmi, Sertawa, dan Chawa. Keempat klan ini kemudian terbagi lagi ke dalam lebih dari 20 klan lain sampai saat ini.

Di Himalaya, jasa Sherpa sangat membantu para pendaki Everest. Stamina mereka yang bagus di ketinggian dan temperatur yang ekstrim membuat mereka sangat diandalkan untuk membuka jalur maupun membawa barang-barang pendaki, ke puncak Everest.
 
Banyak dari mereka menganut Buddha yang dipraktekkan di Tibet. Bahasanya adalah bahasa Sherpa dan Nepal.

Pemerintah Nepal memperkirakan saat ini ada 100 ribu orang yang menyebut dirinya Sherpa di Nepal. Sherpa itu sendiri sudah seperti merek dagang untuk menarik dan meyakinkan pendaki gunung. Tanpa embel-embel Sherpa di belakang namanya, sulit mendapat pekerjaan dari pendaki.
 
Tapi inilah gunung yang sangat didambakan banyak orang untuk ditaklukkan. Ada yang berhasil, ada pula yang gagal dan berujung pada kematian. Untuk lebih jelas, simak infografis berikut ini:



(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads