Salah satu perusahaan pelat merah yang terlibat dalam mega proyek ini, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI). Direktur Utama BNI Gatot Suwondo punya cerita menarik saat berkumpul bersama BUMN dan Dahlan membahas proyek ini.
"Ada ide lagi dari Pak DI (Dahlan Iskan). Kan di sekitar Semarang itu segokan (cekungan tanah), nah bagaimana kalau tanah di situ diuruk jadi bisa dekat ke jalan tol atas laut tadi," kata Gatot ketika berkunjung ke kantor detikcom, Rabu (7/5/2014).
Menurutnya, areal lahan yang harus ditutup tanah sekitar 20 meter ke arah laut. Nantinya, daerah itu akan dikomersialkan, sehingga bisa dibangun aneka bangunan komersil di tanah baru ini.
"Kalau Singapura bisa menguruk tanah dari negara kita, kenapa kita tidak bisa?" ujar Gatot.
Biaya menguruk tanah diprediksi lebih murah ketimbang harus membebaskan lahan. Selama ini proyek-proyek pemerintah selalu terkendala pembebasan lahan. Selain mahal, pembebasan lahan juga selalu bentrok dengan warga setempat.
"Nah, kalau begini kan tidak berbenturan. Bupati dan Gubernur juga kalau diajak kerjasama pakai cara ini kayaknya bakal senang," tambahnya.
Proyek yang rencananya tidak memakai dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (ABPN) ini belum dapat restu dari Kementerian Pekerjaan Umum (PU). KemenPU ingin melihat kajiannya terlebih dahulu sebelum memberikan izin.
BUMN berharap KemenPU bisa segera mengambil keputusan karena selama ini beban jalan di jalur pantura sudah melebihi kapasitas. Dengan adanya tol di atas laut ini, beban jalan bisa dipindahkan sebagian.
"Bahkan ide awalnya itu tol ini bisa khusus untuk truk saja, sehingga beban di darat pindah ke laut dan berkuranglah kepadatan. Selama ini kan pantura macet karena ada truk mogok, atau truk jalannya pelan, kalau beban ini pindah kan bisa lebih lancar," katanya.
Uji kelayakan pembangunan tol atas laut ruas Cirebon-Surabaya sudah dilakukan. Tahap I, ruas Semarang-Surabaya dengan panjang 300 km dan tahap II, ruas Cirebon-Semarang dengan panjang 200 km. Dahlan pernah meyebut biaya pembangunan kedua tahap tol tersebut mencapai Rp 140 triliun.
BNI mengaku akan ambil bagian dalam pembiayaan proyek ini. Namun saat ini masih dikaji berapa porsi yang bisa dikontribusi oleh bank pelat merah tersebut.
"Sekarang ini kan masih dihitung lagi (nilai proyeknya), apalagi setelah ada rencana uruk tanah ini. Nanti akan kami lihat lagi bisa masuk berapa," katanya.
(ang/dnl)










































