Demikian dikatakan Ciputra saat ditemui di Marketing Gallery Kuningan, Jakarta, Jumat (8/5/2014).
"Pemimpin (presiden) yang baru harus mementingkan entrepreneur (pengusaha) karena negara ini tanpa entrepreneur nggak akan berkembang," katanya.
Menurutnya, untuk menjadi seorang pengusaha sukses harus dimulai dari bawah, sehingga sukses menjadi lebih bernilai. "Misal kalau sudah jadi pengusaha warung supaya jadi lebih besar, dari kaki lima itu dilatih lagi agar bisa berkembang," ucapnya.
Ciputra menjelaskan, tak ada alasan bagi seseorang untuk tidak bisa sukses, apapun latar belakang pendidikannya.
"Apalagi anggaran kita 20% dari APBN untuk pendidikan tapi entrepreneur nggak ada. Kita harus siapkan. Misal kita latih TKW (Tenaga Kerja Wanita), itu perlu dilatih, kan pada punya bakat," ujar dia.
Ia menyebutkan jumlah pengusaha di Indonesia masih sangat minim, hanya 0,5% dari total penduduk Indonesia. Idealnya, dalam sebuah negara minimal ada 2% jumlah pengusaha.
Jumlah ini sangat jauh bila dibandingkan dengan jumlah pengusaha di Amerika Serikat (AS) yang mencapai 15% dari total populasi, Singapura sebesar 8%, dan Malaysia 3%.
"Minimum jumlah entrepreneur itu 2%, sekarang kita kira-kira masih 0,5%. AS 15%, Singapura 8%, Malaysia kira-kira 3%. Singapura pendapatan per orang per tahun US$ 50 ribu, Indonesia US$ 4 ribu," cetusnya.
Selain mencetak pengusaha, pemimpin Indonesia yang akan datang juga diharapkan peduli terhadap seni budaya.
"Artpreneur kita bagaimana mengembangkan seni budaya menjadi roh jiwa bangsa dan menjadi kesejahteraan bangsa, sekarang masih tradisional. Di Eropa dan AS ada perusahaan dia kerja punya lukisan nilainya Rp 50 triliun, ada juga dia pedagang lukisan, dia punya usahanya US$ 5 miliar nilainya, bukan main, ini perlu dikembangkan di Indonesia karena seniman itu miskin korupsi," terang dia.
Ciputra berharap, sosok yang bisa menjamin dua hal tersebut sangat dimungkinkan bisa menjadikan Indonesia lebih maju.
"Sekarang kan sudah banyak pengusaha sukses kayak CT (Chairul Tanjung), Arifin Panigoro, pengusaha yang punya sosok sosial seperti Jusuf Kalla, Jokowi. Ya tinggal bagaimana bisa mendorong ini semua," pungkasnya.
(drk/hen)











































