Mempertanyakan Pasar 'Perdagangan Manusia' Nigeria

Goncangan Panggung Nigeria (3)

Mempertanyakan Pasar 'Perdagangan Manusia' Nigeria

- detikFinance
Senin, 12 Mei 2014 13:09 WIB
Mempertanyakan Pasar Perdagangan Manusia Nigeria
Warga Nigeria berunjuk rasa, meminta pemerintah segera menuntaskan kasus penculikan terhadap 276 siswa sekolah. (Foto: Reuters)
Jakarta - Abubakar Shekau, pemimpin kelompok teroris Boko Haram dari Nigeria, mengancam bakal menjual sekitar 276 anak perempuan yang mereka culik dari sekolah putri di Chibok, Borno, Nigeria. “Ada pasar untuk memperjualbelikan manusia,” kata Shekau, seperti diterjemahkan CNN dari tayangan video yang disebarkannya.

“Allah mengatakan saya harus menjual (mereka), Dia memerintahkan saya untuk menjual, saya akan menjual perempuan-perempuan itu,” kata Shekau lagi, dalam tayangan tersebut. Pertanyaannya adalah: benarkah masih ada 'pasar' seperti itu di zaman modern ini?

Seperti secuil kisah perdagangan budak di film peraih Oscar, A 12 Years Slave. Faktanya, praktek penyelundupan dan penjualan anak-anak, perbudakan seks, dan pernikahan paksa, masih terjadi di sejumlah tempat di dunia. Terutama di Afrika.

Di Afrika, “Tak pernah ada periode waktu di mana perbudakan anak-anak tak terjadi,” kata Benjamin N. Lawrence, ilmuwan di Institut Teknologi Rochester, yang banyak mempelajari dan menulis soal penyelundupan manusia.

Profesor Lawrence, kepada New York Times bilang, bila mengunjungi negara-negara di Afrika bagian barat, dengan mudah dirinya bisa menemukan tempat di mana anak-anak 'diperjualbelikan'.

John Sutter dari CNN menulis bahwa antara 670 ribu sampai 740 ribu perempuan menjadi korban perbudakan di Nigeria. Dia mengutip data Global Slavery Index 2013 yang dikeluarkan oleh Walk Free Foundation. Statistik itu menempatkan Nigeria dalam urutan keempat negara yang masih tinggi angka perbudakannya.

Walk Free, kelompok asal Australia itu, juga mencatat bahwa sebanyak 20 juta sampai 30 juta orang menjadi korban perbudakan di seluruh dunia. Lebih dari 15 persen berada di kawasan Sub-Sahara Afrika.

Tak heran kalau Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sudah menaruh perhatian pada masalah perdagangan dan penyelundupan anak-anak ini selama 25 tahun terakhir. PBB terus melakukan investigasi atas masalah itu sampai kini.

Laporan paling anyar diungkap kepada PBB pada Maret lalu, oleh Najat Maala M'jid dari Maroko. Dokter dari Maroko ini menyatakan, semakin tinggi risiko bahwa anak-anak yang diculik dan diperjualbelikan itu kemudian berakhir menjadi budak seks.

“Jutaan anak perempuan dan laki-laki di seluruh dunia menjadi korban eksploitasi seksual, meskipun isu ini semakin terang benderang pada tahun-tahun ini,” kata Maala.

Menurut laporan Najat Maala M'jid, kasus penyelundupan anak mencapai 27 persen dari keseluruhan kasus penyelundupan manusia antara tahun 2007 sampai 2010, atau naik 20 persen dibandingkan periode 2003-2006, menurut data United Nations Office on Drugs and Crime.

Pada tahun-tahun ini, kata Najat Maala, jumlah anak perempuan yang jadi korban makin tinggi. Di Afrika dan Timur Tengah, lebih dari duapertiga korban adalah anak-anak dan secara global, penyelundupan untuk eksploitasi seks mencapai 58 persen dari total kasus yang terdeteksi.

Tapi kebanyakan pembela hak asasi manusia bilang ada banyak kasus yang tak terdeteksi. Susan Bissell, Kepala Perlindungan Anak di UNICEF, pada pekan lalu, mengatakan bahwa ada 1,2 juta kasus penyelundupan anak di seluruh dunia per tahun. “Saya kira itu jumlah kotor yang lebih rendah dari semestinya, karena praktek itu sangat dirahasiakan,” katanya.


(DES/DES)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads