Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada sebuah laporan pada 2013 lalu menggolongkan Nigeria sebagai sumber, transit, dan tujuan perdagangan dan penyelundupan manusia. Korban diselundupkan menjadi pekerja paksa atau prostitusi.
Global Slavery Index, sebuah survei tahunan yang digelar kelompok anti-penyelundupan manusia dari Australia, Walk Free Foundation, meranking Nigeria dalam urutan keempat di dunia, dalam daftar negeri yang paling tinggi angka perbudakannya, di belakang India, China, dan Pakistan.
Upaya Nigeria untuk memerangi perbudakan terkendala oleh munculnya pemberontakan bersenjata oleh Boko Haram, yang namanya berarti “pendidikan barat adalah dosa”. Kelompok ini berusaha mendirikan syariat Islam di kawasan utara Nigeria dalam lima tahun terakhir.
Susan Bissell, Kepala Perlindungan Anak di UNICEF, pada pekan lalu, mengatakan perang melawan kelompok itu menjadi kian sulit karena ada pejabat Nigeria yang diduga terlibat dalam skandal perdagangan manusia tersebut.
Tak heran kalau penegakan hukum atas kejahatan itu pun sangat memprihatinkan. Bissell bilang, untuk 800 korban, hanya satu orang yang dihukum. Seakan menjadi indikator bahwa pelaku kejahatan itu seperti tak tersentuh hukum.
Untuk kasus Boko Haram, kata Bissel, kelompok itu bisa bebas beroperasi sebab mereka berada di wilayah yang tak tersentuh hukum.
Kepala di sekolah yang jadi korban penculikan di Chibok, Provinsi Borno, Asabe Kwambura mengatakan masyarakat sangat bersimpati terhadap keluarga para siswi yang diculik. Tapi, “Orang-orang sebetulnya tak terkejut mendengar kejadian itu,” katanya. “Begitulah kehidupan di Provinsi Borno, yang seperti tanpa hukum.”
Borno berada di perbatasan dengan Kamerun. Dengan minimnya layanan telepon dan jalur perjalanan yang berbahaya, kawasan ini kerap menjadi tempat terjadinya aksi-aksi kekerasan, terutama yang disebabkan oleh kelompok Boko Haram.
Selama 11 bulan terakhir, Provinsi Borno, Yobe, dan Adamawa, sudah ditetapkan dalam kondisi darurat setelah anggota kelompok Boko Haram petantang-petenteng di sana. Kelompok ini 'rajin' mengebom gereja dan masjid, menculik perempuan dan anak-anak, serta membunuh pemimpin politik atau agama.
Kelompok ini mencoba menguasai kawasan utara Nigeria dan bermaksud 'memurnikan' Islam di sana. International Crisis Group memperkirakan kelompok yang diduga bertalian dengan Al Qaidah ini telah membunuh lebih dari 4.000 orang sejak mulai beroperasi pada 4 tahun lalu.
Bukan kali ini saja Boko Haram menyerang sekolah. Pada 2013 mereka menyerang tujuh sekolah, menurut Amnesty International. Human Rights Watch menyatakan, Boko Haram juga memakai anak-anak sebagai perisai manusia.
(DES/DES)











































