Saat menjadi Menko Perekonomian, Hatta pernah menghadapi pengalaman terberat. Ketika baru menjadi menteri, dia harus menghadapi dampak krisis ekonomi global yang dampaknya masih terasa pada 2009.
"Di situ kita mengatasi dengan baik, di situ kita juga mengalami tekanan eksternal karena faktor internal lemah. Saya kira itu sesuatu yang sangat menantang ketika mengambil kebijakan untuk atasi berbagai macam persoalan," kata Hatta usai sertijab di Graha Sawala, Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (19/5/2014).
Selain menjadi Menko Perekonomian dari 22 Oktober 2009 sampai 19 Mei 2014, Hatta pernah memegang posisi Menteri Keuangan (2013), Menteri Sekretaris Negara (2007-2009), Menteri Perhubungan (2004-2007), serta Menteri Negara Riset dan Teknologi (2001-2004).
Hatta juga berbagi cerita saat memimpin kementerian/lembaga sejak 2001-2014. Saat pertama kali menjadi menteri atau menjabat Menristek, Hatta menyebutkan bisa melahirkan kebijakan yang mengawinkan prinsip bisnis dan teknologi.
"Saya kira semua mengesankan tapi kalau saya mau katakan. Waktu saya Menristek, saya lahirkan UU dan sudah mau mendorong inovasi, technopreneurship," sebutnya.
Hatta juga pernah mengalami masa sulit ketika menjadi Menhub. Ia beberapa kali harus menyelesaikan persoalan serius seperti mengurai dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dan kecelakaan berbagai transportasi massal.
"Hari pertama saya dilantik itu 2004. Kemudian Januari ada pesawat yang jatuh. Menurut saya, itu sesuatu yang luar biasa," kenangnya.
Dari seluruh jabatan yang pernah diembannya, Hatta mengatakan tidak ada yang lebih berat atau lebih ringan. "Semua nggak bisa kita katakan enteng, itu adalah pekerjaan perlu energi dan perhatian sangat khusus," jelasnya.
Sebagai informasi, Hatta meletakkan jabatannya sebagai Menko Perekonomian untuk fokus bertarung di pemilihan presiden mendampingi Prabowo Subianto. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menunjuk Chairul Tanjung sebagai Menko Perekonomian.
Β
(feb/hds)











































