Jonan juga menjamin jika ada karyawannya terbukti mencurangi sistem penjualan tiket kereta api online.
"Buktikan kepada saya. Sampai ada, saya langsung pecat!" kata Jonan, di Stasiun Gambir, Jakarta, Rabu (21/5/2014).
Tapi Jonan mengakui sistem penjualan tiket online itu memang belum maksimal. Menurut dia, penyebab utama cepat habisnya tiket KA melalui sistem online adalah banyaknya orang yang memesan tiket berkali-kali untuk tujuan perjalanan yang sama di waktu yang sama.
Selain itu, kata Jonan, masih banyak juga tiket yang akhirnya dibatalkan terutama yang dibeli menjelang 3 jam keberangkatan.
"Saat ini kami sedang memperbaiki sistem penjualan tiket KA, baik pemesanan melalui internet atau melalui call center atau agen. Untuk pemesanan melalui call center, kami akan membatasi kuota pemesanannya. Jadi, satu nomor telepon atau handphone (yang menelepon ke call center) hanya bisa memesan satu tiket," kata Jonan.
Menurut Jonan, sistem online ini sengaja dibuat oleh KAI untuk memudahkan masyarakat agar lebih efisien dalam hal waktu sehingga tidak harus pergi ke stasiun untuk membeli tiket KA. Misalnya, orang yang tinggal di Tangerang tidak perlu membuang-buang waktu untuk membeli tiket langsung dari Stasiun Gambir.
"Kalau dari Tangerang naik KRL sampai Stasiun Juanda, lalu naik ojek sampai Stasiun Gambir. Sudah habis berapa ongkosnya? Belum lagi kalau harus mengantri di loket. Habis waktu kurang lebih 4 jam." tutur Jonan.
Penjualan tiket online yang cepat habis ini sempat dikeluhkan oleh pelanggan kereta api yang hendak membeli tiket untuk mudik lebaran, beberapa waktu lalu.
(ang/ang)











































