Kapal khusus itu merupakan modifikasi kapal tua milik PT Pelni (persero) yang diklaim dapat mengangkut 1.000 ekor sapi per kapal.
"Sekarang sudah ada 3 kapal kargo ternak. Tahun ini, ada 3 kapal, tahun depan tambah 1 kapal dengan kapasitas per kapalnya 1.000 ekor," kata Menteri Perhubungan (Menhub) EE Mangindaan saat ditemui di Hotel Sahid Jakarta, Rabu (21/05/2014).
Selain kapal pengangkut sapi, pihaknya juga sudah menyiapkan kereta api khusus pengangkut sapi. Kereta ini merupakan modifikasi kereta yang sudah ada milik Kemenhub.
Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Suswono meminta Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menyediakan layanan jasa fasilitas penerbangan untuk mengangkut daging sapi segar ke Jakarta. Cara ini menurutnya dapat mempercepat distribusi daging sapi dari pusat produksi yaitu di Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Jakarta.
"Saya berharap Menteri Perhubungan (EE Mangindaan) menyampaikan ke Dirut Garuda Indonesia dan maskapai lainnya, ada subsidi seperti Thai Airlines yang digunakan untuk biaya khusus transportasi daging sapi. Dengan ini mungkin dapat mempercepat distribusi daging segar dan bisa diedarkan di Jakarta," katanya.
EE Mangindaan menambahkan program distribusi daging via pesawat terbang sudah dilakukan. Namun rute yang dilayani masih cukup terbatas hanya pada penerbangan perintis seperti perusahaan Kargo Air.
"Selama ini sudah ada dengan subsidi penerbangan perintis. Kalau perintis itu oke. Yang lalu sudah dilayani oleh maskapai penerbangan namanya Kargo Air. Kita subsidi," imbuhnya.
Menurut Mangindaan, pihak Kargo Air tidak keberatan bila ada perintah dari pemerintah untuk melayani penerbangan pengangkutan daging sapi dari NTB ke Jakarta. Sayangnya program ini belum bisa dilaksanakan karena keterbatasan dana.
"Kalau ini penting saya akan usulkan tambahan (dana subsidi) kepada Kementerian Keuangan untuk subsidi pengangkutan daging segar apalagi mau ebaran kita harus back up itu. Yang lalu memang sudah dan dilayani Kargo Air. Asal keluar anggarannya kita siap, Kargo Air siap pasti," tuturnya.
(wij/hen)











































