'Tol' Laut ala Jokowi, Tak Perlu Pembebasan Lahan dan Hemat BBM

'Tol' Laut ala Jokowi, Tak Perlu Pembebasan Lahan dan Hemat BBM

- detikFinance
Jumat, 23 Mei 2014 08:04 WIB
Tol Laut ala Jokowi, Tak Perlu Pembebasan Lahan dan Hemat BBM
Jakarta - Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta yang juga calon presiden, punya konsep transportasi yang disebut 'tol' laut. Namun ini bukan jalan raya, melainkan melainkan kapal besar yang setiap hari berkeliling di pelabuhan-pelabuhan laut dalam atau deep sea port.

Bagaimana tanggapan masyarakat dan pemangku kepentingan akan hal ini? Lalu apa saja keunggulan dana kelemahan tol laut ini? Simak hasil rangkuman detikFinance di sini, Jumat (23/5/2014).

Diklaim Bisa Atasi Masalah Logistik

Sri Adiningsih, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada, mengapresiasi konsep tersebut. Menurutnya, selama ini transportasi laut memang kurang mendapat perhatian. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan.

Kurangnya pengembangan transportasi laut, tambah Adiningsih, menyebabkan biaya logistik di Indonesia menjadi sangat mahal. "Biaya logistik kita memakan 27% dari PDB, sementara di Singapura cuma 8%. Sulit bagi Indonesia untuk bisa bersaing, bahkan di pasar domestik," ujarnya.

Ketika 'tol' laut ini bisa direalisasikan, Adiningsih meyakini industri maritim Indonesia secara keseluruhan bisa lebih berkembang. Ini akan membuat Indonesia semakin terintegrasi.

Semestinya, lanjut Adiningsih, pengembangan logistik laut ala Jokowi ini sudah dilakukan pemerintah sejak dulu. "Sekarang kita kejar ketertinggalan itu. Di Jakarta juga sedang dilakukan dengan pembangunan MRT dan monorel," katanya.

Diklaim Bisa Atasi Masalah Logistik

Sri Adiningsih, Guru Besar Ekonomi Universitas Gadjah Mada, mengapresiasi konsep tersebut. Menurutnya, selama ini transportasi laut memang kurang mendapat perhatian. Padahal Indonesia adalah negara kepulauan.

Kurangnya pengembangan transportasi laut, tambah Adiningsih, menyebabkan biaya logistik di Indonesia menjadi sangat mahal. "Biaya logistik kita memakan 27% dari PDB, sementara di Singapura cuma 8%. Sulit bagi Indonesia untuk bisa bersaing, bahkan di pasar domestik," ujarnya.

Ketika 'tol' laut ini bisa direalisasikan, Adiningsih meyakini industri maritim Indonesia secara keseluruhan bisa lebih berkembang. Ini akan membuat Indonesia semakin terintegrasi.

Semestinya, lanjut Adiningsih, pengembangan logistik laut ala Jokowi ini sudah dilakukan pemerintah sejak dulu. "Sekarang kita kejar ketertinggalan itu. Di Jakarta juga sedang dilakukan dengan pembangunan MRT dan monorel," katanya.

Konsepnya Sudah Ada di MP3EI

Edib Muslim, Kepala Divisi Komunikasi Publik dan Promosi Sekretariat Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), menyatakan konsep Jokowi tersebut sebenarnya sudah ada dalam program Sistem Logistik Nasional dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI).

"Itu sudah ada. Bahkan di Sislognas itu wawasan nusantara bukan hanya untuk mengembangkan ekonomi dalam negeri, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai global hub," kata Edib kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Konsep tersebut, lanjut Edib, sudah tercantum dalam buku MP3EI di Bab II. "Untuk menjadikan Indonesia sebagai global hub, pemerintah akan mengembangkan pelabuhan Kuala Tanjung di Barat dan Bitung di Timur. Ini akan mendukung asas cabotage dan industri perkapalan nasional," paparnya.

Konsepnya Sudah Ada di MP3EI

Edib Muslim, Kepala Divisi Komunikasi Publik dan Promosi Sekretariat Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI), menyatakan konsep Jokowi tersebut sebenarnya sudah ada dalam program Sistem Logistik Nasional dan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia (MP3EI).

"Itu sudah ada. Bahkan di Sislognas itu wawasan nusantara bukan hanya untuk mengembangkan ekonomi dalam negeri, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai global hub," kata Edib kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Konsep tersebut, lanjut Edib, sudah tercantum dalam buku MP3EI di Bab II. "Untuk menjadikan Indonesia sebagai global hub, pemerintah akan mengembangkan pelabuhan Kuala Tanjung di Barat dan Bitung di Timur. Ini akan mendukung asas cabotage dan industri perkapalan nasional," paparnya.

Pelindo Pernah Ajari Jokowi

Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino pernah menjelaskan konsep 'tol' laut atau lebih dikenal dengan Pendulum Nusantara kepada Jokowi saat berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Priok. Posisi Jokowi saat itu masih menjadi Gubernur DKI aktif.

Hal ini disampaikan oleh Corporate Secretary Pelindo II, Rima Novianti, kepada detikFinance, Kamis (22/5/2014). "Jalan tol laut ini pernah dijelaskan oleh Pak Lino waktu Pak Jokowi ke Priok," ungkapnya.

Konsep 'tol' laut ini juga dijelaskan bos Pelindo II kepada jajaran pemerintahan. Rima menjelaskan proyek ini merupakan langkah untuk memangkas ongkos logistik.

Konsep Pendulum Nusantara atau 'tol' laut tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada keseragaman pelayanan di antara operator pelabuhan Pelindo I sampai IV serta dukungan regulasi. Pasalnya jika salah satu pelabuhan siap secara sistem dan infrastruktur melayani kapal berukuran besar, pelabuhan tujuan di daerah-daerah juga harus siap menerima bobot kapal berukuran serupa.

"Ini mengintegrasikan semua pelabuhan yang ada dari Sabang-Merauke agar bisa menyelaraskan pelayanan domestik," sebut Rima.

Dengan konsep Pendulum Nusantara ini, kapal berukuran 3.000 TEUs bisa transit di pelabuhan besar tanpa harus berganti kapal untuk mengatarkan barang. Cukup bongkar muat, setelah itu melanjutkan perjalanan. Konsep ini mirip dengan perjalan pesawat yang transit tanpa harus berganti pesawat ukuran kecil jika menuju sebuah daerah.

Namun, syaratnya pelabuhan-pelabuhan harus disiapkan. Pelindo II sendiri telah mempersiapkan beberapa pelabuhannya untuk melaksanakan program 'tol' laut ini. Untuk area Sumatera, Pelindo II menyiapkan pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Padang (bagian dari Sumatera Loop) serta Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Priok (bagian Jawa Loop).

"Tidak semua pelabuhan punya fasilitas yang bisa disandari kapal besar. Pelindo siap, kita sudah perkuat dermaga dan penyiapan alat di dermaga. Itu sudah masuk rencana kita dan kita terus perbaiki dermaga," papar Rima.

Pelindo Pernah Ajari Jokowi

Direktur Utama PT Pelindo II RJ Lino pernah menjelaskan konsep 'tol' laut atau lebih dikenal dengan Pendulum Nusantara kepada Jokowi saat berkunjung ke Pelabuhan Tanjung Priok. Posisi Jokowi saat itu masih menjadi Gubernur DKI aktif.

Hal ini disampaikan oleh Corporate Secretary Pelindo II, Rima Novianti, kepada detikFinance, Kamis (22/5/2014). "Jalan tol laut ini pernah dijelaskan oleh Pak Lino waktu Pak Jokowi ke Priok," ungkapnya.

Konsep 'tol' laut ini juga dijelaskan bos Pelindo II kepada jajaran pemerintahan. Rima menjelaskan proyek ini merupakan langkah untuk memangkas ongkos logistik.

Konsep Pendulum Nusantara atau 'tol' laut tersebut tidak bisa berdiri sendiri. Harus ada keseragaman pelayanan di antara operator pelabuhan Pelindo I sampai IV serta dukungan regulasi. Pasalnya jika salah satu pelabuhan siap secara sistem dan infrastruktur melayani kapal berukuran besar, pelabuhan tujuan di daerah-daerah juga harus siap menerima bobot kapal berukuran serupa.

"Ini mengintegrasikan semua pelabuhan yang ada dari Sabang-Merauke agar bisa menyelaraskan pelayanan domestik," sebut Rima.

Dengan konsep Pendulum Nusantara ini, kapal berukuran 3.000 TEUs bisa transit di pelabuhan besar tanpa harus berganti kapal untuk mengatarkan barang. Cukup bongkar muat, setelah itu melanjutkan perjalanan. Konsep ini mirip dengan perjalan pesawat yang transit tanpa harus berganti pesawat ukuran kecil jika menuju sebuah daerah.

Namun, syaratnya pelabuhan-pelabuhan harus disiapkan. Pelindo II sendiri telah mempersiapkan beberapa pelabuhannya untuk melaksanakan program 'tol' laut ini. Untuk area Sumatera, Pelindo II menyiapkan pelabuhan Panjang dan Pelabuhan Padang (bagian dari Sumatera Loop) serta Pelabuhan Banten dan Pelabuhan Tanjung Priok (bagian Jawa Loop).

"Tidak semua pelabuhan punya fasilitas yang bisa disandari kapal besar. Pelindo siap, kita sudah perkuat dermaga dan penyiapan alat di dermaga. Itu sudah masuk rencana kita dan kita terus perbaiki dermaga," papar Rima.

Didukung Wamenhub

Apa tanggapan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono atas rencana Jokowi ini?

"Ide yang baik untuk mengurangi biaya logistik. Bentuknya seperti Pendulum Nusantara. Mungkin tepatnya bukan tol laut, tapi jalur laut bebas hambatan," kata Bambang kepada detikFinance, Kamis (22/05/2014).

Dalam roadmap Kementerian Perhubungan, terdapat konsep Pendulum Nusantara. Di sini, pemerintah bersama para operator pelabuhan dan stakeholder lainnya akan menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia yang beroperasi seperti pendulum.

Rencananya rute ini akan melewati 6 pelabuhan utama, yakni Belawan, Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Sorong. Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat menurunkan biaya logistik di Indonesia.

Didukung Wamenhub

Apa tanggapan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono atas rencana Jokowi ini?

"Ide yang baik untuk mengurangi biaya logistik. Bentuknya seperti Pendulum Nusantara. Mungkin tepatnya bukan tol laut, tapi jalur laut bebas hambatan," kata Bambang kepada detikFinance, Kamis (22/05/2014).

Dalam roadmap Kementerian Perhubungan, terdapat konsep Pendulum Nusantara. Di sini, pemerintah bersama para operator pelabuhan dan stakeholder lainnya akan menyediakan rute pelayaran sepanjang jalur barat-timur Indonesia yang beroperasi seperti pendulum.

Rencananya rute ini akan melewati 6 pelabuhan utama, yakni Belawan, Jakarta, Surabaya, Batam, Makassar, dan Sorong. Dengan adanya sistem ini diharapkan dapat menurunkan biaya logistik di Indonesia.

Tak Perlu Pembebasan Lahan

konsep ini punya keunggulan dibandingkan pengembangan infrastruktur lainnya yaitu tidak perlu proses pembebasan lahan. Selama ini, pembangunan infrastruktur penghubung (connectivity) banyak yang terhambat karena masalah ini.

Dari sisi biaya, lanjut Edib, juga lebih murah karena lebih sedikit proses yang harus dilalui. "Hal yang paling krusial adalah minim sekali konflik. Kalau kita menggunakan laut sebagai moda, tidak ada pembebasan laut, tidak ada pembuatan jalan, pengaspalan, dan sebagainya. Moda transportasinya tinggal diubah dari truk ke kapal," papar dia kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Selain itu, lanjut Edib, konsep 'tol' laut ini juga mampu menggerakkan industri maritim nasional. Hingga saat ini masih ada anggapan bahwa industri maritim seperti perkapalan punya risiko yang tinggi sehingga tidak mudah untuk memperoleh pembiayaan.

"Nanti ada industri perkapalan. Kalau sudah maju, dia statusnya tidak lagi high risk. Sangat economical," tegas Edib.

Dengan begitu, tambah Edib, semakin banyak pengusaha swasta yang ingin terjun di sektor perkapalan. "Nanti tidak lagi hanya PT PAL, dock perkapalan akan lebih tersebar," ujarnya.

Tak Perlu Pembebasan Lahan

konsep ini punya keunggulan dibandingkan pengembangan infrastruktur lainnya yaitu tidak perlu proses pembebasan lahan. Selama ini, pembangunan infrastruktur penghubung (connectivity) banyak yang terhambat karena masalah ini.

Dari sisi biaya, lanjut Edib, juga lebih murah karena lebih sedikit proses yang harus dilalui. "Hal yang paling krusial adalah minim sekali konflik. Kalau kita menggunakan laut sebagai moda, tidak ada pembebasan laut, tidak ada pembuatan jalan, pengaspalan, dan sebagainya. Moda transportasinya tinggal diubah dari truk ke kapal," papar dia kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Selain itu, lanjut Edib, konsep 'tol' laut ini juga mampu menggerakkan industri maritim nasional. Hingga saat ini masih ada anggapan bahwa industri maritim seperti perkapalan punya risiko yang tinggi sehingga tidak mudah untuk memperoleh pembiayaan.

"Nanti ada industri perkapalan. Kalau sudah maju, dia statusnya tidak lagi high risk. Sangat economical," tegas Edib.

Dengan begitu, tambah Edib, semakin banyak pengusaha swasta yang ingin terjun di sektor perkapalan. "Nanti tidak lagi hanya PT PAL, dock perkapalan akan lebih tersebar," ujarnya.

Bikin Pantura Awet dan Hemat Subsidi BBM

Salah satu sisi positif pengembangan maritim adalah membuat jalan raya lebih awet. Ini karena truk-truk bermuatan berat sudah melalui jalur laut.

"Volume yang dibawa 1 kapal itu bisa 100-150 truk. Dengan demikian, ini tidak merusak jalan," kata Edib kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Edib mencontohkan jalan Pantura yang sangat sering mengalami kerusakan. Salah satu penyebabnya adalah karena dilalui truk yang muatannya melebihi kekuatan jalan.

"Jalannya cuma bisa 10 ton, tapi dilewati yang 40 ton, Pasti rusak," tegasnya.

Selain bikin jalan lebih awet, penggunaan transportasi laut juga bisa menghemat konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi (BBM). Saat ini, truk pengangkut kebutuhan pokok masih menggunakan solar bersubsidi. Ketika truk diangkut dengan kapal, maka konsumsi BBM-nya akan lebih hemat.

Bikin Pantura Awet dan Hemat Subsidi BBM

Salah satu sisi positif pengembangan maritim adalah membuat jalan raya lebih awet. Ini karena truk-truk bermuatan berat sudah melalui jalur laut.

"Volume yang dibawa 1 kapal itu bisa 100-150 truk. Dengan demikian, ini tidak merusak jalan," kata Edib kala berbincang dengan detikFinance, Kamis (22/5/2014).

Edib mencontohkan jalan Pantura yang sangat sering mengalami kerusakan. Salah satu penyebabnya adalah karena dilalui truk yang muatannya melebihi kekuatan jalan.

"Jalannya cuma bisa 10 ton, tapi dilewati yang 40 ton, Pasti rusak," tegasnya.

Selain bikin jalan lebih awet, penggunaan transportasi laut juga bisa menghemat konsumsi bahan bakar minyak bersubsidi (BBM). Saat ini, truk pengangkut kebutuhan pokok masih menggunakan solar bersubsidi. Ketika truk diangkut dengan kapal, maka konsumsi BBM-nya akan lebih hemat.
Halaman 2 dari 14
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads