Ini Harapan Pengusaha Pelayaran kepada Presiden Baru

Ini Harapan Pengusaha Pelayaran kepada Presiden Baru

- detikFinance
Jumat, 23 Mei 2014 14:06 WIB
Ini Harapan Pengusaha Pelayaran kepada Presiden Baru
Jakarta - Pengusaha pelayaran nasional yang tergabung dalam Asosiasi Perusahaan Pelayaran Indonesia (INSA) memiliki uneg-uneg kepada calon presiden Indonesia, Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Apa itu?

Ketua Umum INSA, Carmelita Hartoto, menyatakan angkutan logistik paling murah untuk pendistribusian barang dan pemerataan ekonomi di seluruh Indonesia adalah angkutan laut. Meski terbilang murah, tetapi banyak beban biaya yang seharusnya bisa dipangkas.

Wanita yang akrab disapa Meme menyebut 70% biaya operasional angkutan kargo masih disumbang dari darat, bukan saat pelayaran.

"Jangan salah, transportasi laut seharusnya murah tapi dari sisi darat mahal. Harga angkutan laut kita 70% dari sisi darat. Itu kita bayarkan untuk bongkar muat, tarif pelabuhan, warehouse (pergudangan), truk, biaya-biaya lain. Nah 30% itu keluarkan untuk bayar cicilan kapal, bayar kru, bayar BBM, bayar maintanance kapal," kata Meme kepada detikFinance, Jumat (23/5/2014).

Akibatnya, lanjut Meme, marjin yang diterima pengusaha kapal menjadi sempit. Belum lagi dengan diterapkannya tambahan pajak dari pemerintah.

"Yang dinikmati marjinnya 7%. Bagaimana anggota kita bisa survive?" ujarnya.

Terkait usulan salah satu calon presiden untuk pengembangan 'tol' laut atau Pendulum Nusantara, Meme menyebut ide tersebut sebaiknya harus mengajak bicara pelaku industri logistik. Pasalnya jika ide tersebut diterapkan, pengusaha harus menyediakan kapal besar berbobot 3.000 TEUs. Jika ini dilaksanakan, beban operator kapal justru melonjak karena belum meratanya potensi daya angkut di Indonesia bagian timur dan barat.

"Para capres paling tidak bisa mengajak kita berbicara," sebutnya.

Selain itu, tambah Meme, operator pelabuhan di Indonesia dinilai belum siap menjalankan konsep 'tol' laut ini. Masih banyak persoalan di Pelindo I samppai IV, seperti perbedaan pelayaan.

"Pelabuhan Pontianak (Pelindo II) dan Kendari (Pelindo IV), misalnya, punya produktivitas berbeda. Pontianak lebih cepat dalam service pelabuhan. Kalau beda, kan berpengaruh ke waktu tunggu. Makin lama kita tunggu, ya itu cost bagi kita," jelasnya.

Belum membaiknya pelayanan, demikian Meme, malah kemudian disertai dengan Pelindo II menaikkan tarif Container Handling Charge (CHC) di Pelabuhan Tanjung Priok. Pengguna jasa akan terkena dampak padahal seharusnya dengan pengembangan pelabuhan dan peremajaan peralatan, produktivitas bisa meningkat. Alhasil seharusnya tarif bisa lebih murah tetapi yang terjadi adalah sebaliknya.

"Bahwa pelabuhan bukannya membangun pelabuhan dengan alat baru sehingga produktivitas meningkat sehingga tarif jadi turun. Yang ada malah mau naikkan tarif. Jadi mestinya, alat baru mestinya volume tinggi jangan main alat baru supaya balik investasi naikkan tarif," tegasnya.

(feb/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads