Dalam seminar bertajuk Dampak Global Penerapan Bioteknologi dalam Mendorong Perbaikan Lingkungan Hidup dan Teknologi, Direktur Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor (IPB) Arief Daryanto mengungkapkan, negara lain telah menerapkan bioteknologi sementara Indonesia belum.
Menurutnya, lambannya Pemerintah dalam menentukan sikap terhadap penerapan bioteknologi dalam sektor pertanian membuat Indonesia tertinggal dari negara-negara tetangganya seperti Filipina.
"Tampaknya pemerintah kita sangat hati-hati sehingga selama 5 tahun belum mengambil keputusan apa-apa. Pemerintah sangat hati-hati tapi kemudian menjadi terlambat dalam mengambil keputusan. Pemerintah kita lambat dalam hal ini. Terlalu hati-hati dan lambat dalam bioteknologi. Sehingga negara-kita tertinggal," kata Arief di Gedung MM IPB, Bogor, Rabu (28/5/2014).
Arief mengatakan, lambannya Pemerintah Indonesia dalam menerapkan bioteknologi adalah karena masih besarnya kekhawatiran atas dampak-dampak negatif dari produk pertanian yang dihasilkan dari penerapan bioteknologi ini.
Padahal, kata dia, kekhawatiran tersebut sangat tidak beralasan karena selama ini produk-produk bioteknologi ini sudah banyak dikonsumsi oleh masyarakat indonesia yang diperoleh lewat impor dari negara-negara yang sudah saat ini sudah menerapkan bioteknolologi di sektor pertaniannya.
"Toh selama ini kita tidak kenapa-napa kan selama ini sudah mengkonsumsi kedelai atau jagung dari negara lain. Padahal mereka menerapkan bioteknologi. Produknya kita makan tapi kita tidak tanam itu," tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur PG Economics Limited Graham Brookes mengungkapkan, keberhasilan sejumlah negara termasuk Filipina dalam menghasilkan produk pertanian berkualitas dengan jumlah yang melimpah adalah karena mengadopsi bioteknologi.
"Tanaman hasil bioteknologi senantiasa menjadi investasi yang menguntungkan bagi petani seluruh dunia. Sejak pertama kali diterapkan, 16,7 juta petani dari 29 negara telah memananam tanaman biotek dan 90% petani ini berasal dari negara-negara berkembang," ujar dia di Gedung MM IPB, Bogor, Rabu (28/5/2014).
Dengan adanya penerapan bioteknologi tersebut maka hambatan-hambatan pertanian yang dihadapi Indonesia seperti keterbatasan lahan, perubahan musim dan ancaman serangan hama dan penyakit dapat diatasi.
"Selama 17 tahun penelitian kami, penerapan bioteknologi mampu mendorong peningkatan pendapatan petani hingga total US$ 116,6 Miliar dan justru petani yang meraup keuntungan tertinggi adalah para petani dari negara berkembang dengan lahan sempit,"
Bioteknologi sendiri dideviniskan sebagai prinsip-prinsip biologi, biokimia dan rekayasa organisme untuk menghasilkan produk dengan kualitas unggul.
Di dunia pertanian, bioteknologi berkaitan dengan penyediaan bibit unggul yang memiliki kelebihan seperti tahan terhadap kekeringan, hama dan penyakit dan kemampuan produksi yang lebih banyak dibandinkan tanaman pangan biasa.
Graham mengatakan, dengan berbagai keunggulan yang dimiliki tanaman biotek ini, maka petani dapat menghemat pengeluaran yang sebelumnya untuk membeli pestisida serta dapat mengurangi risiko gagal panen seperti yang sering dialami petani konvensional.
"Laporan dari PG Economics memberikan pengetahuan mengenai penerapan bioteknologi di negara berkembang. Petani jagung dari negara tetangga seperti Filipina dapat menghasilkan keuntungan sebesar US$ 135 per hektar pada musim kering dan US$ 125 per hektar selama musim hujan, sementara petani Indonesia hanya mampu menghasilkan US$ 7 per hektar," tuturnya.
(ang/ang)











































