Tiga anggota APTPI, yaitu Jakarta International Container Terminal (JICT), Terminal Petikemas Koja (KOJA), dan Mustika Alam Lestari (MAL) sudah menginvestasikan dana lebih dari US$ 207 juta atau sekitar Rp 2,3 triliun selama 6 tahun untuk produktivitas dan layanan di Pelabuhan Priok
Menurut Sekretaris APTPI Paul Krisnadi, dengan tambahan investasi baru itu, pengelola terminal merasa perlu ada penyesuaian biaya CHC. Selain sejak tahun 2008 tidak pernah terjadi kenaikan, penyesuaian CHC juga akan mendorong investasi tambahan yang akan berdampak pada efisiensi di pelabuhan.
"Biaya CHC pelabuhan di Priok merupakan salah satu yang termurah di Asia. Penyesuaian tarif ini merupakan upaya untuk mendorong investasi yang lebih besar, sehingga layanan di Priok akan semakin menguntungkan para pelaku usaha," jelas Paul dalam keterangan tertulis, Senin (2/6/2014).
Rencananya tarif CHC akan disesuaikan menjadi US$ 93, sedangkan THC menjadi US$ 110. CHC adalah biaya bongkar muat petikemas dari kapal ke lapangan penumpukan terminal petikemas yang dibayarkan oleh perusahaan pelayaran ke terminal petikemas. Sedangkan tarif THC dibayar oleh pemilik barang kepada perusahaan pelayaran.
Tarif THC terdiri dari CHC US$ 93 ditambah PPN US$ 9,3 ditambah Surcharge US$ 7,7 per kontainer dan layanan.
Direktur The Nasional Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi mengatakan, para pelaku usaha mestinya juga fair dalam menanggapi usulan penyesuaian tarif CHC di Tanjung Priok. Pasalnya, langkah tersebut dibutuhkan untuk mendorong investasi yang lebih besar guna memaksimalkan kinerja dan layanan di tiga terminal tersebut. Apalagi beban biaya CHC sesungguhnya sangat kecil dibandingkan beban biaya logistik lainnya yang ditanggung oleh pelaku usaha.
"Biaya CHC itu tidak sampai 0,01% dari nilai barang per kontainer. Biaya logistik yang paling mahal itu justru di sektor transportasi. Tanjung Priok butuh investasi baru dan hal itu akan bisa dilakukan jika pengelola terminal mendapatkan kepastian tentang investasinya dengan biaya yang kompetitif," tegas Siswanto Rusdi.
Paul menambahkan, selama periode 2008-2013, tiga operator di pelabuhan Tanjung Priok tersebut terus meningkatkan investasinya guna melayani arus barang ekspor-impor yang volume dan frekuensinya semakin tinggi.
Selama periode tersebut, JICT telah menghabiskan investasi sebesar US$ 151 juta untuk membeli peralatan, meng-upgrade sistem serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Langkah yang sama juga dilakukan KOJA yang telah meningkatkan investasi sebesar US$ 50 juta guna meningkatkan kapasitas bongkar muat dari sekitar 600 ribu TEU (Tweenty-foot Equivalent Units) menjadi sekitar 1 juta TEU pada saat ini.
Investasi baru juga dilakukan KOJA dengan memperkuat teknologi dan melakukan pembelian peralatan baru untuk melayani kebutuhan konsumen yang terus meningkat dengan lebih efisien. Adapun MAL juga terus meningkatkan kinerja operasionalnya dengan menambah investasi sebesar lebih dari US$ 6 juta.
"Investasi baru senilai lebih dari US$ 207 juta tersebut mampu mendorong produktivitas dan layanan di tiga operator Pelabuhan Priok meningkat tajam. Dengan teknologi baru dan sistem yang lebih baik kinerja pelabuhan Priok lebih efektif dan efisien," kata Paul.
(ang/dnl)











































