Apa kata Menteri Koordinator Perekonomian Chairul Tanjung? Pria yang akrab disapa CT ini menjelaskan salah satu penyebab defisit neraca perdagangan adalah penurunan ekspor produk crude palm oil (CPO).
"BPS baru memberikan informasi kepada kita defisit US$ 1,97 miliar. Itu bisa terjadi karena berkurangnya ekspor kita, khususnya minyak kelapa sawit. Volume mengecil dan harga semakin murah," papar CT saat ditemui di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (02/06/2014).
CT menuturkan nilai ekspor CPO, terutama ke 2 negara tujuan utama yaitu Tiongkok dan India, turun signifikan. Bahkan jumlahnya mencapai US$ 1 miliar.
"Tiongkok mengurangi impor karena pertumbuhan ekonominya turun. Kemudian India itu mengenakan tarif yang khusus untuk minyak sawit, dan otomatis demand-nya berkurang. Jadi dari dua ini kita berkurang US$ 1 miliar," jelasnya.
Selain penurunan nilai ekspor, defisit neraca perdagangan juga dipicu peningkatan impor ponsel pada April sebesar. "Kita impor handphone dan gadget yang jumlahnya melebihi bulan lalu, yaitu menjadi US$ 332 juta," imbuhnya.
CT mengutarakan, pemerintah punya langkah strategis untuk menekan defisit neraca perdagangan. Salah satunya adalah dengan menggenjot ekspor. Komoditas yang bisa menjadi tumpuan ekspor Indonesia dan menekan defisit neraca perdagangan ke depan adalah gas alam.
"Tetapi kita tidak boleh berpuas diri karena kita harus mengambil beberapa langkah bagaimana ekspor kita bisa lebih tinggi dan impor kita sedikit. Ada beberapa langkah, seperti Menteri ESDM menerbitkan surat izin untuk mengeskpor gas yang jumlahnya 400 juta MMBtu sebagai kelebihan produksi dari Bontang. Ini tambahan income ekspor kita," terangnya.
Β
(wij/hds)











































