Langkah sosialisasi ini merupakan bagian dari studi Amdal. Setelah selesai studi, selanjutnya Kemenhub akan memulai proses tender kepada investor. Diproyeksi ketika semua proses selesai, masa konstruksi kereta ekspres bisa dimulai tahun 2015.
"Perkiraan pertengahan tahun depan," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Hanggoro Budi Wiryawan kepada detikFinance, Rabu (4/6/2014).
Hanggoro menuturkan saat proses tender, Kemenhub akan mencari dan melihat penawaran terbaik yang diberikan oleh investor.
"Nanti kita lelang, kita buka ke semua investor untuk kompetisi. Investor menyeiapkan DED (Detail Engineering Design) sehingga mereka bisa tawarkan secara teknis, legal, waktu yang paling tepat, mana jaminan terbaik kita akan kompetisikan," jelasnya.
Hanggoro menuturkan proses konstruksi memerlukan waktu 3 tahun. Jalur akan dibangun melayang sepanjang 33 km dan menelan investasi hingga Rp 20 triliun.
"Ekspres tahun 2018 selesai," terangnya.
Untuk memberi keringanan agar proyek ini bisa menarik bagi investor, pemerintah akan memberikan stimulus dan jaminan.
"Itu masih dalam pembicaraan, apakah pemerintah support 50% dalam bentuk viability gap fund atau semua 100% dibayakan investor nanti baru dibayarkan oleh pemerintah," ujarnya.
Nantinya kereta cepat ini akan dibangun berbasis konstruksi layang dari Bandara Halim Perdanakusuma-Manggarai-Tanah Abang-Dukuh Atas-Pluit-Bandara Soekarno Hatta.
Selain kereta ekspres, pemerintah melalui Kemenhub dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) sedang mengembangkan KRL Commuter Bandara Soetta-Sudirman Baru. KRL khusus ini diproyeksi selesai 3 tahun lebih cepar daripada kereta ekspres.
"Tahun depan atau 2015 operasikan KRL dan Express baru operasi tahun 2018. Mereka 3 tahun nikmati tanpa saingan," jelasnya.
(feb/ang)











































