Tanpa Pembenahan Pajak, Program Prabowo dan Jokowi Hanya Sekedar Janji

Tanpa Pembenahan Pajak, Program Prabowo dan Jokowi Hanya Sekedar Janji

- detikFinance
Selasa, 10 Jun 2014 10:40 WIB
Tanpa Pembenahan Pajak, Program Prabowo dan Jokowi Hanya Sekedar Janji
Jakarta - Melihat visi-misi para pasangan calon pemimpin, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa dan Joko Widodo-Jusuf Kalla, bidang perpajakan tidak terlalu disentuh. Program-program lawas seperti intensifikasi dan ekstensifikasi sepertinya masih jadi andalan, minim terobosan baru.

Hanya beberapa poin yang mungkin tergolong baru. Misalnya Prabowo-Hatta menyebutkan punya target rasio penerimaan perpajakan terhadap produk domestik bruto (PDB) alias tax ratio 16%. Sementara Jokowi-JK menjanjikan untuk merancang ulang lembaga pemungut pajak, yang nantinya bisa saja setingkat kementerian.

"Masalah besar kita adalah mengapa calon-calon pemimpin ini seakan tidak peduli terhadap pajak. Atau mungkin tidak tahu," ujar Darussalam, pengamat perpajakan Universitas Indonesia, kala berbincang dengan detikFinance, Selasa (10/6/2014).

Seharusnya, lanjut Darussalam, para calon pemimpin ini menyadari betapa vitalnya pajak terhadap keuangan negara. Lebih dari 70% pendapatan negara berasal dari perpajakan.

Padahal, kata Darussalam, begitu banyak janji yang ditawarkan, baik oleh Prabowo-Hatta maupun Jokowi-JK. Prabowo-Hatta menjanjikan pembangunan 3.000 km jalan raya dan 4.000 km rel kereta api. Ada pula pembangunan infrastruktur pelabuhan, bandara, listrik, dan telekomunikasi.

Prabowo-Hatta juga mewacanakan pemindahan ibu kota agar pembangunan bisa lebih merata. Jalan tol atas laut di Pantura juga menjadi program pasangan ini.

Sementara Jokowi-JK berjanji membangun jalan baru sepanjang 2.000 km. Selain itu, pasangan ini juga berjanji akan memperbaiki jalan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua.

Jokowi-JK pun berencana membangun 10 pelabuhan baru dan merenovasi yang lama. Selain pelabuhan, ada pula rencana membangun 10 bandara baru dan memperbaiki yang sudah ada.

"Ini proyek-proyek yang membutuhkan dana sangat besar. Dari mana pendanaannya kalau bukan dari pajak?" tegas Darussalam.

Tanpa penerimaan pajak yang memadai, demikian Darussalam, maka segala yang direncanakan 2 pasangan tersebut hanya jadi janji manis. "Janji kampanye butuh dana besar untuk direalisasikan. Sumbangan terbesarnya tentu dari pajak. Tapi kalau pajaknya tidak disentuh, maka hanya akan jadi janji," tuturnya.

(hds/dnl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads