Proyek Terowongan Cadas Pangeran Punya Tingkat Kesulitan Tinggi

Proyek Terowongan Cadas Pangeran Punya Tingkat Kesulitan Tinggi

- detikFinance
Rabu, 11 Jun 2014 08:22 WIB
Proyek Terowongan Cadas Pangeran Punya Tingkat Kesulitan Tinggi
Jakarta - Membangun terowongan tol bawah tanah di seksi II Tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu), Jawa Barat memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Terowongan yang akan membentang 500 meter ini akan menembus perut bumi di sisi utara perbukitan kawasan Cadas Pangeran, Sumedang, Jawa Barat.

Kepala Balai Jalan Nasional IV Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Hartadi mengatakan kondisi tanah di terowongan yang lunak menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli sipil dalam proyek terowongan tersebut.

Selama ini, konstruksi terowongan yang dibangun di luar negeri melewati jalur bukit yang berstruktur batuan sehingga relatif lebih mudah membangun konstruksi terowongan, sedangkan bakal lokasi terowongan Cadas Pangeran justru sebaliknya.

"Tergantung kondisi tanah, misalnya kalau di Norwegia tanahnya bebatuan sehingga lebih gampang dan lebih murah, kalau nggak cangih bisa roboh, tantangannya lebih berat," kata Kepala Balai Jalan Nasional IV Kementerian Pekerjaan Umum Bambang Hartadi kepada detikFinance, Rabu (11/6/2014)

Bambang menambahkan, selain tantangan pembangunan yang rentan terhadap kondisi tanah yang lunak. Pembangunan tol Cisumdawu juga punya tantangan bentangan alam yang berbukit-bukit.

"Tantangan medannya berbukit-bukit," katanya.

Sebelumnya Kepala Satker Pelaksanaan Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Cisumdawu, Subagus Dwi Nurjaya mengatakan alat yang akan digunakan membuat terowongan ini masih menggunakan cara konvensional seperti alat berat backhoe. Pengunaan teknologi alat bor canggih seperti Tunnel Boring Machine (TBM) yang biasa dipakai membangun Mass Rapid Transit (MRT) dianggap tak efisien

"Ini terowongan tertutup sepanjang 0,5 km, dibor pakai backhoe, bukan pakai TBM. Kalau pakai TBM akan efisien apabila panjang terowongan lebih dari 1 km. Bayangkan saja panjang rangkaian alat TBM sampai 300 meter, sedangkan kita mau gali hanya 500 meter," kata Subagus beberapa waktu lalu.

Subagus menambahkan sebelum memutuskan membangun terowongan, ada beberapa opsi untuk menghindari adanya konstruksi terowongan terutup, yaitu opsi memindahkan trase sisi Tanjungsari dan sisi Sumedang, namun tak mungkin karena akan banyak mengubah trase lahan yang sudah dibebaskan.

Opsi lainnya yang juga tak jadi, adalah membangun lintasan terowongan terbuka dengan menggali bukit hingga kedalaman 50-60 meter, dengan risiko kerusakan ekosistem, potensi longsor yang tinggi karena lahan di lokasi merupakan tanah lunak.

"Kalau kita gali ke dalam 60 meter, saya akan punya lereng yang sangat curam, pasti tak stabil, kalau dipaksakan ngeri juga," kata Subagus.

Menurutnya opsi membangun terowongan awalnya terdiri beberapa opsi, awalnya terowongan tertutup akan dibangun lebih dari 1 Km. Namun karena pertimbangan efisiensi maka dicari lokasi yang lebih pendek untuk membangun terowongan.

"Tadinya ada dua lokasi yang panjang terowongannya 1,05 km dan 1,2 km setelah dievaluasi dan perimbangan engineering, opsi yang panjang 1,2 km dihilangkan, namun yang 1,05 km ditekan jadi hanya 500 meter saja," katanya.

(hen/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads