Sekretaris Jenderal Perhimpunan Pedagang Sapi dan Kerbau Indonesia Rochadi Tawaf mengungkapkan, harga daging masih berkutat di level tersebut karena serbuan impor yang masuk ke pasaran, terutama jeroan sapi.
Dia mengatakan, 30-40% untung pedagang daging sapi di dalam negeri berasal dari penjualan jeroan. Karena jeroan tidak laku, maka pedagang melimpahkan kerugiannya dengan menaikkan harga daging.
"Karena nggak laku, jeroan itu dibebankan ke harga daging. Jeroannya nggak ada yang beli, itu makanya (daging) jadi mahal," tuturnya kepada detikFinance, Selasa (10/6/2014).
Jeroan impor memang dihargai lebih murah dari yang berasal dari dalam negeri. Harga jeroan impor sekitar Rp 15 ribu, sementara jeroan asal dalam negeri bisa dibanderol Rp 30 ribu per kg.
Menurut Rochadi, jeroan impor biasanya kelas rendah yang di negara asalnya seperti Australia dipakai untuk bahan makanan hewan peliharaan. "Di sana tidak terpakai, jadi masuk ke sini," ujarnya.
Pedagang, lanjut Rochadi, masih bertahan dengan mengambil pasokan jeroan dari peternak domestik. Ini agar para peternak lokal tidak merugi. Namun ada sebagian yang nakal dengan memasukkan jeroan impor tersebut ke pasar, dan akhirnya diserbu konsumen.
Sedangkan untuk lebaran, dia memperkirakan harga akan melampaui Rp 100 ribu per kg. Bahkan menurutnya bisa mencapai Rp 150 ribu per kg. Pasalnya, selain permintaan daging akan naik pada musim lebaran, jeroan malah semakin tidak laku karena orang akan lebih banyak membeli daging.
(zul/hds)










































