Demikian dikatakan Menteri Keuangan Chatib Basri saat Acara Bahana tentang Proyeksi Ekonomi dan Bisnis Indonesia ke Depan Jelang Pilpres di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (11/6/2014).
"Bukan soal jangan anti asing, tapi siapa pun nanti presidennya harus bisa terbuka terhadap investasi baik asing atau domestik. Friendly terhadap dunia usaha," kata Chatib.
Dia menjelaskan, saat ini Indonesia masih membutuhkan dana besar untuk pembangunan ekonomi. Penciptaan lapangan kerja yang diusung kedua pasangan kandidat harus didukung oleh masuknya investasi baru.
"Kedua kandidat presiden sangat perhatian pada penciptaan lapangan kerja, itu mendorong pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi perlu biaya, dan ini dilakukan melalui investasi," kata Chatib.
Pendanaan dalam negeri, lanjut Chatib, bisa menyumbang sekitar 32% dari produk domestik bruto (PDB). "Sementara kita butuh 37%, berarti kurang 5%. Pilihannya domestik naik, berarti harus kaya atau produktivitas dinaikkan. Atau terbuka terhadap investasi, asing maupun domestik," jelasnya.
Chatib menambahkan, pemimpin baru juga harus bisa melakukan efisiensi terhadap perekonomian Indonesia dan meningkatkan produktivitas kerja. "Siapa pun presidennya, semua kandidat perlu creating job, harus bisa domestic saving. Kemudian open foreign investment, melakukan economic efficiency, dan meningkatkan produktivitas," paparnya.
(drk/hds)











































