Ical: Pertumbuhan Ekonomi RI 2004 Bica Capai 5,1 Persen
Rabu, 22 Des 2004 13:50 WIB
Jakarta - Menko Perekonomian Aburizal Bakrie optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2004 ini bisa mencapai 5,1 persen dari target semula 4,8 persen dimana pertumbuhan lebih banyak didorong oleh kondisi domestik baik konsumsi maupun investasi."Ekonomi Indonesia sampai akhir tahun bisa mencapai 5,1 persen. Ini menunjukkan suatu kinerja yang mulai membaik," kata Aburizal yang akrab dipanggil Ical ini saat jumpa pers mengenai laporan ekonomi akhir tahun 2004 di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/12/2004).Menurut Ical, permintaan domestik pada tahun 2004 tumbuh 6,8 persen, ekspor tumbuh 8,3 persen dan impor tumbuh 24,2 persen. Mengenai asumsi makro ekonomi, Ical menjelaskan inflasi inti pada tahun 2004 diperkirakan masih akan relatif stabil di kisaran 6,5 persen, rata-rata suku bunga SBI di kisaran 7,3-7,5 persen. "Kecenderungan penurunan suku bunga SBI tersebut telah mendorong penurunan suku bunga perbankan khususnya suku bunga kredit walaupun belum seperti yang diharapkan," ujar Ical.Sampai dengan Oktober 2004, suku bunga kredit modal kerja mencapai 13,64 persen, kredit investasi mencapai 14,25 persen dan kredit konsumsi mencapai 16,89 persen. Untuk nilai tukar Rupiah, lanjut Ical, secara keseluruhan tahun 2004 rata-rata akan berada di kisaran Rp 8.700-9.100 per dolar AS. Dimana test date base money untuk keseluruhan tahun 2004 diperkirakan tumbuh sekitar 14,6 persen atau sedikit diatas proyeksi indikatif rata-rata 13-14,5 persen. Dijelaskan, untuk tahun 2005 perlu diwaspadai adanya risiko-risiko makro ekonomi seperti kenaikan harga minyak dan tingkat bunga. Namun, lanjutnya, pemerintah telah mengantisipasi dan menyediakan ruang yang memadai untuk proses penyesuaian akibat munculnya risiko tersebut. Diproyeksikan, pada tahun 2005, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,5 persen, inflasi 5-7 persen, suku bunga SBI 3 bulan 7-8 persen, harga minyak US$ 30-35 per barel dan Rupiah di kisaran Rp 8.700-9.200 per dolar AS. "Jika infrastruktur sudah tumbuh, maka ekonomi bisa tumbuh lebih dari 5,5 persen, dimana akan tercipta lapangan kerja baru lebih dari 2 juta," ujarnya.
(qom/)











































