"Itu cukup untuk 7-8 bulan ke depan. Untuk cadangan nasional, untuk salurkan raskin, dan operasi pasar," kata Direktur Utama Bulog Sutarto Alimoeso saat ditemui di Kantor Menko Perekonomian, Jakarta, Jumat (13/6/2014).
Sutarto mengimbau masyarakat atau konsumen tidak perlu panik terhadap pasokan beras. Justru kepanikan berlebihan dan permintaan yang tidak biasa akan memicu harga meroket.
"Supaya masyarakat jangan panik. Sampai akhir tahun aman kalau normal. Kita berhitung nggak sampai akhir tahun. Januari sampai Februari (tahun berikutnya) kita juga kita hitung," sebutnya.
Untuk memenuhi kuota beras nasional, mulai tahun lalu Bulog tidak melakukan impor. Impor baru bisa dilakukan jika ketersediaan minimal terganggu.
Tahun lalu, Bulog memperoleh kuota impor 300.000 ton untuk memenuhi cadangan beras nasional. Namun kuota tersebut tidak dipakai karena petani lokal mampu memenuhi pasokan beras.
"Kita tahun lalu nggak impor sama sekali. Meski tahun lalu Bulog kantongi izin 300.000 ton. Tapi karena target (cadangan) 2 juta ton akhir tahun tercapai jadi izin 300.000 ton nggak terpakai. Kalau kurang ya memang harus impor," papar Sutarto.
Sutarto menyebut pihaknya belum bisa memprediksi apakah tahun ini akan mengimpor beras atau tidak. "Kalau nggak normal karena banjir, elnino, produksi kurang, bencana alam seperti gunung meletus. Terakhir kalau harga naik. Itu harus dilihat ada sebabnya," jelasnya.
Jika stok beras berkurang drastis dan permintaan berlebih, pemerintah berkoordinasi dengan daerah untuk melakukan operasi pasar. Langkah ini untuk menjamin harga dan pasokan beras tetap aman di setiap daerah.
"Kadang-kadang ada info banjir, hama, gunung meletus. Itu disikapi pelaku bisnis dengan harga naik. Itu nggak harus dilakukan. Maka awal tahun kita sikapi dengan operasi pasar," kata Sutarto.
(feb/hds)











































