Jokowi-JK Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 7%/Tahun

Jokowi-JK Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 7%/Tahun

- detikFinance
Minggu, 15 Jun 2014 16:54 WIB
Jokowi-JK Targetkan Pertumbuhan Ekonomi 7%/Tahun
Jakarta -

Calon presiden-wakil presiden Joko Widodo dan Jusuf Kalla punya target yang cukup tinggi di bidang perekonomian. Di antaranya adalah mencapai pertumbuhan ekonomi 7% per tahun.

Demikian dikemukakan Wijayanto Samirin, anggota tim ekonomi Jokowi-JK, di Media Center Jokowi-JK, Menteng, Jakarta, Minggu (15/6/2014). Selain pertumbuhan ekonomi 7% per tahun, pasangan ini juga punya target membuka 15 juta lapangan kerja selama 5 tahun, serta mengurangi pengangguran menjadi 4% dan kemiskinan menjadi 5%.

"Kemudian biaya logistik akan ditekan sampai 5% per tahun. Sekarang itu 27% dari GDP (gross domestic product). Jadi 27% ekonomi kita habis untuk memindahkan barang," kata Wijayanto.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk mencapai target-target tersebut, lanjut Wijayanto, Jokowi-JK punya 3 pilar utama. Pertama adalah membangun kualitas sumber daya manusia. Ini dilakukan dengan menjamin pendidikan gratis 12 tahun, beasiswa, Kartu Indonesia Sehat, rasio elektrifikasi 100%, penguatan UMKM, dan sebagainya.

Kedua adalah pengembangan infrastruktur. Ini dilakukan dengan program rumah deret di sejumlah tempat, sistem logistik 'tol' laut dengan kapal-kapal besar, pembangunan 5.000 pasar tradisional, pembangunan 100 fasilitas lelang ikan, dan sebagainya. Untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, Jokowi-JK juga menjanjikan kemudahan dalam perizinan.

"Kita punya kendala di proses pengajuan izin yang bertele-tele. Hal ini semua akan diperbaiki, akan dibuat one door one window single service. Di sini Pak Jokowi dan Pak JK tak hanya menerapkan konsep itu, tapi juga menjamin impelementasinya baik," tutur Wijayanto.

Sementara pilar ketiga adalah kemandirian ekonomi. Ini dilakukan dengan membuka 1 juta hektar lahan pertanian baru di luar Jawa, konversi 9 juta hektar lahan tidak produktif menjadi produktif, mempercepat bauran energi (energy mix) agar tidak bergantung pada BBM.

Kemandirian, tambah Wijayanto, juga akan diterapkan di untuk pembiayaan APBN. "Terkait pendanaan, utang luar negeri kita ingin tekan walaupun tak mungkin 0. Saat kita punya utang luar negeri, ini akan membuat ekonomi kita lebih rentan," katanya.

(zul/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads