Proyek Rel Kereta Pelabuhan, Solusi Kemacetan Tanjung Priok

Proyek Rel Kereta Pelabuhan, Solusi Kemacetan Tanjung Priok

- detikFinance
Senin, 16 Jun 2014 06:52 WIB
Proyek Rel Kereta Pelabuhan, Solusi Kemacetan Tanjung Priok
Jakarta - Kemacetan parah terjadi saat masuk dan keluar Pelabuhan Peti Kemas Tanjung Priok di Jakarta Utara. Kepadatan lalu-lintas tak terelakkan karena ribuan truk-truk besar pembawa kontainer alias peti kemas berseliweran setiap harinya.

Saat ini alternatif angkutan pembawa kontainer untuk keluar masuk pelabuhan masih tergatung moda truk sehingga membuat kapasitas jalan menjadi sempit. Untuk mengurai kemacetan parah di area Pelabuhan Tanjung Priok, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan telah merancang konsep jaringan kereta yang bisa masuk hingga area terminal peti kemas atau pelabuhan.

Kemenhub telah membangun jaringan rel yang masuk ke dalam area pelabuhan namun terhenti beberapa ratus meter sebelum memasuki jantung terminal.

Proyek ini telah dianggarkan sejak 4 tahun silam dan pembangunannya baru mencapai Jalan Pasoso atau sebelum masuk ke pelabuhan. Proyek ini tersisa hingga 300-500 meter lagi agar bisa masuk ke jantung pelabuhan.

"Memang program sudah cukup lama. Kita anggarkan 4 tahun lalu. Itu tinggal dari Pasoso ke Pelabuhan," kata Direktur Lalu Lintas dan Angkutan Kereta Api Kemenhub, Hanggoro Budi Wiryawan kepada detikFinance akhir pekan lalu, Sabtu (14/6/2014).

Proyek tersebut memakan anggaran pemerintah hingga puluhan miliar rupiah. Anggaran tersebut disebar untuk pembebasan lahan dan biaya kontruksi.

"Ancer-ancer tanah anggarannya sekitar Rp 12 miliar, kontruksi hampir Rp 50 miliar," jelasnya.

Proyek jaringan rel kereta yang masuk hingga ke dalam pelabuhan memang dikonsep untuk mengurai kemacetan parah pada akses jalan dari atau menuju Pelabuhan Tanjung Priok.

Pasalnya truk pembawa kontainer yang keluar masuk pelabuhan mencapai ribuan. Namun volume jalan dan ribuan truk trailer pembawa kontainer tidak sebanding alias sudah melebihi kapasitas jalan. Alhasil terjadi kemacetan parah yang sulit terhindarkan.

"Per hari ada 10.000 TEUs (kontiner) keluar masuk. Dia butuh 5.000 trailer. Itu sudah pulang pergi. Kita bayangkan macetnya Jakarta," sebutnya.

Jaringan rel kereta ini dibangun untuk memindahkan angkutan kontiner dari moda truk ke dalam angkutan kereta. Hanggoro menyebut sekitar 10-20% kontainer akan terangkut dengan moda kereta kereta. Kontainer tersebut akan didistribusikan dari pusat industri dan pelabuhan darat (dry port) ke dalan pelabuhan atau sebaliknya.

"Sepuluh sampai 20% bisa kurangi kepadatan. Kalau 10.000 TEUs per hari, in-out. Misal beralih ke kereta sudah 1.000-2.000 kontainer. Itu kira-kira," sebutnya.

Rencana pembangunan rel khusus ini telah dikonsep beberapa tahun lalu. Proses kontruksi pun sudah berlangsung namun proyek ini belum tuntas 100% karena terkendala pembebasan lahan.

"Dari Pasoso sampai ke dalam pelabuhan itu yang terkendala pembebasan tanah," sebutnya.


(feb/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads