Efek Domino Newmont Tutup Operasi

Efek Domino Newmont Tutup Operasi

- detikFinance
Senin, 16 Jun 2014 09:45 WIB
Efek Domino Newmont Tutup Operasi
Jakarta - PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) resmi menghentikan produksi di Tambang Batu Hijau mulai 5 Juni lalu. Salah satu penyebabnya adalah ketentuan ekspor yang baru, penerapan bea keluar, dan larangan ekspor sehingga sangat berdampak pada kelayakan ekonomi operasi tambang Batu Hijau dan tidak sesuai dengan kontrak karya.

Hasilnya, ribuan tenaga kerja Newmont dirumahkan sementara (standby) sampai ada kejelasan nasib dan komunikasi antara pihak Newmont dengan pemerintah.

Berhentinya kegiatan produksi Newmont tidak saja berdampak pada internal perusahaan tetapi juga masyarakat sekitar. Masyarakat yang membuka usaha seperti penyedia makan dan rumah tinggal (kost) di sekitar industri tambang Newmont mengaku merugi karena karyawan Newmont memilih kembali ke tempat asal mereka tinggal.

"Biasanya omset hingga Rp 3 juta per hari. Sekarang karena Newmont tutup produksi pendapatan hanya Rp 1 juta per per hari, bahkan Rp 500 ribu per hari," kata salah seorang pemilik rumah makanΒ bernama Sumanto saat media trip mengunjungi satu per satu area pertambangan Batu Hijau PT NTT, di Kecamatan Sekongkang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, pekan lalu, seperti dikutip, Senin (16/06/2014).

Kecamatan Maluk sendiri berjarak hanya 100 meter dari lokasi penambangan Newmont. Sumanto yang berasal dari Lamongan, Jawa Timur ini mengisahkan tidak hanya usahanya yang merugi, banyak masyarakat Kecamatan Malok yang menyewakan rumah tinggal atau bisnis kost juga bernasib sama.

Selain Sumanto, para pengusaha lokal yang menjadi mitra bisnis dengan Newmont juga ikut terkena dampak. Salah satunya adalah Abdul Gani pemilik penyewaan mobil dan bus PT Gita Usaha Madani (GUM).

Dengan berhenti beroperasinya Newmont, Abdul mengaku saat ini usahanya ikut berhenti. Akhirnya, ia mau tidak mau harus memutus hubungan kerja para karyawannya.

"Karyawan saya ada 150 orang sudah standby. Saya bingung jadinya," keluh Abdul.

Abdul mengatakan PT GUM adalah mitra kerja Newmont sebagai penyedia jasa transportasi. Ia memiliki 22 armada bus, 11 mobil, serta 1 truk yang diperuntukkan untuk operasional Newmont. Abdul memperoleh pendapatan bersih sekitar Rp 2-3 juta per kendaraan.

Selain kehilangan pendapatan, ia juga dipusingkan dengan biaya kredit seluruh kendaraan dan bunga pinjaman bank yang belum selesai. Bila dihitung, ia memperkirakan setiap bulan jumlah kredit semua kendaraannya mencapai lebih dari Rp 500 juta. Oleh karena itu, ia berharap masalah Newmont bisa segera diselesaikan dengan pemerintah.

"Gaji semua karyawan saya putus semua. Saya harap pihak bank juga mengerti dengan kondisi ini dan ada toleransi seperti cicilan dapat dikurangi karena Newmont begini. Kredit Rp 14-16 juta per bus, Rp 9-11 juta per mobil," tuturnya.

Memang bagi masyarakat Sumbawa Barat, keberadaan Newmont sangat penting dan strategis terutama dalam menggerakan roda perekonomian. Mayoritas masyarakat Sumbawa Barat menggantungkan hidup kepada perusahaan tambang asal Amerika Serikat ini.

Menurut catatan Newmont sesuai data laporan penelitian Universitas Indonesia tahun lalu, Newmont berkontribusi 95% dari pduk domestik bruto (PDB) Kabupaten Sumbawa Barat. Sedangkan kontribusi Newmont untuk Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) adalah 33%.

"Salah satu contoh adalah Kecamatan Maluk. Awalnya Maluk hanyalah sebuah dusun dengan 250 KK. Sekarang Maluk sudah menjadi satu kecamatan kota dengan 5 desa," ungkap Specialist Media Relation PT NNT Ari Burhanuddin.

Untuk mengembangkan pola ekonomi penduduk sekitar, Newmont mempunyai sebuah program yang dinamakan Local Business Initiative di samping program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang sudah ada. "Kita bentuk pengusaha lokal dari masyarakat penduduk sekitar yang sebagian besar petani. Mereka dibangun oleh Newmont," katanya.
(wij/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads