"Saya sudah lega bisa membawakan acara tersebut. Kalau soal hasilnya, mungkin masyarakat yang lebih bisa menilai," ujar Erani kala berbincang dengan detikFinance, Senin (16/6/2014).
Bagaimana Erani menilai visi-misi ekonomi dari Prabowo dan Jokowi? "Dua-duanya menyampaikan program-program terobosan. Ada perhatian ke bidang-bidang yang selama ini seakan terlupakan seperti pembangunan pertanian, reforma agraria, atau industri maritim," katanya.
Namun, Erani memberi beberapa catatan yang kurang diperhatikan oleh Prabowo maupun Jokowi yaitu mengatasi ketimpangan antara Indonesia bagian barat dan timur. Ini adalah isu abadi yang selama ini kurang mendapat atensi.
"Saya berharap masalah ketimpangan barat dan timur ini lebih diperhatikan. Dari debat kemarin, belum terlalu banyak tersentuh," tegasnya.
Catatan lain, tambah Erani, adalah sejumlah target yang mungkin kurang realistis meski dia enggan menyebutkan secara rinci. "Ada angka-angka yang menjadi target, tetapi belum solid atau tidak realistis. Ini harus dipikirkan," tegasnya.
Erani memahami bahwa angka-angka yang dijanjikan Prabowo maupun Jokowi pada dasarnya adalah janji kampanye. "Memang janji kampanye seperti itu. Tetapi masih ada waktu untuk dipikirkan kembali," ujarnya.
Kedua capres, lanjut Erani, sama-sama mengedepankan ekonomi kerakyatan yang sesuai dengan UUD 1945 pasal 33. Namun ini juga menjadi catatan, terkait implementasinya nanti jika salah satu dari mereka terpilih.
"Kalau ada mazhab atau pemikiran yang baru, maka harus didukung pula oleh tim ekonomi yang sesuai. Menteri-menteri ekonomi nantinya harus punya mazhab yang sama. Orang-orang yang lebih condong ke perusahaan besar atau kepentingan asing sebaiknya diganti dengan yang sesuai," papar Erani.
(hds/hen)











































