Demikian dikemukakan Juniman, Kepala Ekonom BII, kepada detikFinance, Senin (16/6/2014). "Market sepertinya sudah tidak masalah siapa yang nantinya menjadi presiden. Sekarang lebih rasional, tinggal dilihat saja siapa yang akan menang," katanya.
Menurut Juniman, hari ini memang ada sedikit koreksi di pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan sesi I melemah 20,931 poin (0,42%) menjadi 4.905,732. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tadi pagi pun melemah tipis dari Rp 11.785 per dolar AS menjadi Rp 11.790 per dolar AS.
Namun, Juniman menilai koreksi ini bukan disebabkan oleh debat capres malam tadi. "Ini inline dengan yang terjadi di negara-negara lain. Jadi tidak semata-mata faktor debat capres," tuturnya.
Menurut Juniman, pelaku pasar memang awalnya lebih condong ke calon presiden Joko Widodo. Pesaingnya, Prabowo Subianto, kurang diapresiasi karena dipersepsikan anti investasi asing.
"Malam tadi, Prabowo menegaskan tidak anti investasi asing. Boleh masuk asalkan membawa keuntungan bagi Indonesia, seperti banyak membuka lapangan kerja. Mungkin bagi market sekarang sudah tidak ada masalah siapa pun presidennya," papar Juniman.
Sebelumnya, Prabowo menegaskan komitmennya soal investasi asing. Dia menyatakan tidak anti terhadap investasi asing, asalkan bisa membawa kebaikan bagi Indonesia.
"Kami terbuka, mendukung investasi asing. Tapi tentu tak boleh mematikan ekonomi rakyat," kata Prabowo dalam acara debat capres di Hotel Gran Melia, Jakarta, Minggu (15/6/2014).
Jika terpilih, Prabowo menyatakan tetap memperbolehkan investor asing untuk masuk ke Indonesia. "Kita tidak anti asing. Silakan masuk, kita tidak keberatan," tegasnya.
Ditambahkan Prabowo, di samping memperbolehkan investasi asing masuk, dirinya akan meningkatkan ekonomi rakyat seperti koperasi atau usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
(hds/dnl)











































