Mereka antara lain Rachmat Saleh yang pernah menjadi Gubernur Bank Indonesia periode 1973-1983 dan Menteri Perdagangan 1983-1988. Selain itu, ada juga Adrianus Mooy yang pernah menjabat Gubernur BI periode 1988-1993 dan Arifin Siregar Gubernur BI periode 1993-1994.
CT juga bertemu JB Sumarlin yang pernah menjabat sebagai Menteri Keuangan tahun 1988-1993, dan Subroto yang pernah menjabat sebagai Menteri Pertambangan dan Energi di tahun 1978-1988.
"Jadi saya ketemu para senior tadi. Ada paling tua Pak Subroto 91 tahun, Pak Rachmat Saleh 84 tahun, Pak Sumarlin 82 tahun, ada lagi Pak Adrianus Mooy masih kepala 7. Pak Arifin Siregar yang mungkin lebih tua dari Pak Adrianus Mooy sudah kepala 7. Saya undang mereka karena saya ingin menjadi sebuah tradisi kita ingin mendengar masukan-masukan yang disampaikan senior karena dia kan di luar pemerintahan. Dulunya pernah di pemerintahan," tutur CT saat ditemui di Kantornya di kawasan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (17/06/2014).
CT mengakui tantangan ekonomi pada zaman Orde Baru dengan kondisi saat ini juah berbeda. CT mengakui ada beberapa pesan khusus yang disampaikan tokoh-tokoh Orde Baru tersebut terutama di sektor ekonomi negara Indonesia.
"Tentunya tantangan berbeda, tantangan zaman beliau saat otoriter Soeharto tentu berbeda dengan zaman demokrasi sekarang. Tetapi secara filosofis banyak yang baik yang dipesan beliau. Kita diskusi panjang lebar yaitu hal-hal jangka panjang misalnya soal demografi dividen," tuturnya.
Dijelaskan CT, saat ini Indonesia sedang mengalami surplus demografi (kependudukan). Namun surplus demografi akan menjadi bencana bila tidak dimanfaatkan atau dikelola dengan baik.
"Kalau ini tidak dimanfaatkan tentu akan mubazir. Bahkan penduduk yang begitu besar tidak akan jadi dividen bisa menjadi beban kalau tidak dikelola dengan baik," katanya.
Kemudian pesan khusus lain yang disampaikan adalah masalah energi yang disampaikan Menteri Pertambangan dan Energi di tahun 1978-1988 Subroto. Subroto berpesan agar Indonesia berhati-hati mengelola sektor energi terutama impor minyak. Bila perlu Indonesia harus melakukan diversifikasi energi dan tidak terlalu bergantung pada impor minyak.
"Sektor energi juga ada Pak Subroto mantan menteri ESDM dan mantan Ketua OPEC. Beliau mengingatkan yang pertama hati-hati dengan Irak sekarang begini kalau eskalasi meningkat. Karena Irak itu produsen kedua terbesar kedua minyak terbesar pasti harga akan naik. Kalau naik anggaran APBN subsidi kita pasti akan naik. Kedua beliau berharap ada diversifikasi energi seperti geothermal, biofuel, air, matahari,angin dan sebagainya," paparnya.
CT menegaskan pemerintah sudah melakukan antisipasi dalam pengelolaan energi di tanah air. Antisipasi yang dilakukan terutama adalah menekan tingginya impor minyak bila eskalasi di Irak meningkat.
"Kita sudah antisipasi dan siapkan peluang itu nanti kita lihat perkembangannya. APBN-P yang baru ini membuat pemerintah sekarang dan akan datang mempunyai fondasi untuk antisipasi kenaikan ini. APBN yang dulu karena defisitnya dibatasi 1,6% kita mentok, kalau ada apa-apa kita tidak bisa bergerak. Kalau sekarang dengan defisit 2,4% dan ada anggaran cadangan untuk bantuan sosial dan sebagainya itu sudah dibuka roomnya. jadi kalau terjadi sesuatu pemerintah ini membuat RAPBNP ke-2," cetusnya.
(wij/hen)











































